Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pertanyaan klasik “apakah uang bisa membeli kebahagiaan?” sering kali menjadi perdebatan sengit.
Di satu sisi, uang adalah alat untuk bertahan hidup; di sisi lain, banyak orang kaya yang merasa hampa.
Lantas, di mana titik keseimbangannya?
Ternyata, sains memiliki jawabannya.
Berbagai riset modern telah membedah hubungan antara isi dompet dan kesehatan mental.
Hasilnya mengejutkan: ada batasan nominal tertentu di mana uang berhenti memberikan kebahagiaan tambahan.
Berikut adalah rangkuman fakta ilmiah mengenai berapa banyak uang yang sebenarnya dibutuhkan manusia untuk merasa “cukup” dan bahagia.
1. “Angka Ajaib” Kebahagiaan
Sebuah studi terkenal di Amerika Serikat pada tahun 2010 menetapkan bahwa kesejahteraan emosional manusia mencapai titik puncaknya pada pendapatan tahunan sekitar US$75.000 (sekitar Rp1,18 miliar).
Jika disesuaikan dengan inflasi saat ini, angka tersebut naik menjadi sekitar US$111.000 atau setara Rp1,74 miliar per tahun.
Teori ini menyebutkan bahwa sebelum menyentuh angka tersebut, setiap kenaikan gaji akan meningkatkan kebahagiaan secara signifikan karena kebutuhan dasar terpenuhi.
Namun, begitu melewati ambang batas tersebut, dampak uang terhadap kebahagiaan mulai mendatar (plateau).
2. Jebakan Hedonic Treadmill
Mengapa orang yang sudah sangat kaya sering kali tidak merasa lebih bahagia dari kelas menengah? Fenomena ini disebut hedonic treadmill.
Manusia memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa.
Saat Anda membeli mobil mewah atau rumah besar, rasa senang itu hanya bersifat sementara.
















