Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Di kalangan masyarakat Indonesia, terdapat sebuah “aturan tak tertulis” yang diwariskan turun-temurun kepada anak perempuan: “Pembalut harus dicuci bersih sampai darahnya hilang sebelum dibuang, pamali kalau tidak.”
Alasannya beragam, mulai dari faktor kebersihan, ketakutan akan bau, hingga mitos-mitos supranatural yang menyebut darah haid mengundang makhluk halus.
Namun, jika kita melihat dari kacamata medis dan lingkungan modern, apakah tindakan mencuci pembalut sekali pakai itu benar-benar higienis dan diperlukan?
Jawabannya mungkin akan mengejutkan banyak perempuan: Sebaiknya tidak.
Baca Juga: Bukan Hamil, 5 Alasan Siklus Menstruasimu Berantakan
Berikut adalah penjelasan logis mengapa kebiasaan mencuci pembalut sekali pakai justru bisa merugikan:
1. Desain untuk Menampung, Bukan Dibilas
Pembalut sekali pakai modern dirancang dengan teknologi Super Absorbent Polymer (SAP).
Ini adalah bahan gel yang bertugas mengubah cairan darah menjadi gel agar tidak bocor.
Jika Anda mencuci pembalut tersebut di bawah kran air:
- Bahan penyerap di dalamnya akan menyerap air kran, membengkak, dan akhirnya “meledak” atau robek.
- Gel yang hancur ini akan berhamburan keluar, membuat kamar mandi kotor dan berlendir, yang justru tidak higienis.
2. Pencemaran Lingkungan dan Saluran Air
Ini adalah dampak yang paling jarang disadari.
Saat Anda membilas pembalut sekali pakai, Anda sedang melarutkan bahan kimia, pemutih (klorin), dan mikroplastik yang ada di dalam pembalut langsung ke saluran pembuangan air.
Limbah cair ini akhirnya akan bermuara ke sungai dan laut, mencemari ekosistem air.
Selain itu, gel yang terlepas bisa menyumbat pipa pembuangan rumah tangga Anda.
3. Potensi Penyebaran Bakteri
Mencuci pembalut berarti Anda menyentuh area yang penuh bakteri dan darah dalam waktu lama dengan tangan telanjang.
Cipratan air saat mencuci juga bisa menyebarkan bakteri dari pembalut ke dinding, lantai, atau peralatan mandi lainnya (sikat gigi/handuk) yang ada di dekatnya.
Lalu, Bagaimana Cara Membuang yang Tepat?
Alih-alih mencucinya hingga putih kembali (yang nyaris mustahil dilakukan pada pembalut modern), lakukan protokol “Lipat, Bungkus, Buang”:
















