Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Selama ini, masyarakat sangat familiar dengan istilah buta aksara atau buta huruf.
Kampanye pemberantasan buta huruf telah digalakkan selama puluhan tahun.
Namun, tahukah Anda bahwa ada kondisi lain yang tak kalah penting namun sering terabaikan? Kondisi tersebut adalah “buta angka” atau dalam istilah medis sering dikaitkan dengan diskalkulia.
Seringkali, seseorang yang kesulitan berhitung dianggap “malas” atau “kurang pandai” di sekolah.
Baca Juga: Dunia Serasa Berputar? Hindari 4 Hal Ini Saat Vertigo Kambuh Agar Cepat Pulih
Padahal, kesulitan memproses angka bukanlah tolak ukur kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Sama halnya seperti disleksia (kesulitan membaca), buta angka adalah sebuah tantangan neurobiologis, bukan tanda kelemahan intelektual.
Apa Itu Buta Angka?
Dalam konteks luas, buta angka atau inumerasi adalah ketidakmampuan seseorang untuk memahami dan menerapkan konsep matematika dasar dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara dalam konteks psikologis, kondisi spesifiknya disebut diskalkulia.
Orang dengan kondisi ini sering merasa angka adalah “bahasa asing” yang sulit diterjemahkan.
Mereka mungkin kesulitan membaca jam analog, bingung menghitung uang kembalian, sulit memperkirakan jarak, atau merasa cemas berlebihan ketika dihadapkan pada statistik sederhana.
Dampak dalam Keseharian
Dampaknya bisa sangat nyata. Dalam dunia yang serba data ini, kemampuan memahami angka menjadi krusial.
















