Cahaya alami akan mengirim sinyal ke otak untuk berhenti memproduksi melatonin (hormon tidur) sementara waktu dan meningkatkan produksi serotonin, hormon yang membantu memperbaiki suasana hati (mood).
4. Konsumsi Makanan Bernutrisi, Bukan Gula
Saat lelah, otak cenderung menginginkan makanan manis atau karbohidrat olahan sebagai sumber energi cepat.
Ini adalah jebakan.
Lonjakan gula darah akan memberikan energi sesaat, namun kemudian akan jatuh drastis (sugar crash) yang membuat Anda semakin lemas.
Pilihlah makanan yang kaya protein, lemak sehat, dan serat seperti kacang-kacangan, telur, atau buah-buahan.
Nutrisi ini memberikan pelepasan energi yang stabil dan perlahan.
5. Lakukan Digital Detox Sementara
Salah satu pemicu burnout terbesar adalah kelebihan informasi.
Saat tubuh lelah, otak tidak mampu memproses banjir informasi dari media sosial atau surel pekerjaan dengan baik.
Jauhkan gawai Anda setidaknya satu jam sebelum tidur atau saat sedang beristirahat.
Memberikan jeda pada mata dan pikiran dari paparan layar (screen time) akan membantu menurunkan tingkat stres secara signifikan.
6. Gerakkan Tubuh dengan Intensitas Rendah
Meskipun rasanya ingin terus berbaring, melakukan gerakan ringan justru membantu melancarkan peredaran darah dan suplai oksigen ke otak. Tidak perlu olahraga berat.
Cukup lakukan peregangan ringan atau berjalan santai di sekitar rumah.
Aktivitas fisik ringan akan memicu pelepasan endorfin yang bertindak sebagai pereda stres alami, membantu Anda merasa sedikit lebih bertenaga dan positif.
Mengatasi burnout bukan tentang seberapa cepat Anda bisa kembali bekerja, melainkan seberapa efektif Anda memulihkan diri. Dengarkan tubuh Anda, karena kesehatan adalah aset produktivitas yang paling berharga.
Baca Juga: Bukan Malas, Ini 5 Tanda Tubuhmu Sudah Kelelahan yang Sering Diabaikan
(Mira)
















