3. Berburu Dopamin Instan
Stres memicu produksi hormon kortisol yang membuat tubuh tegang dan cemas.
Untuk menyeimbangkannya, tubuh sangat mendambakan dopamin dan endorfin (hormon bahagia).
Lelucon receh adalah pemicu dopamin termurah dan tercepat.
Tawa yang meledak, meskipun disebabkan oleh hal sepele, ampuh menurunkan kadar kortisol dan meningkatkan asupan oksigen ke organ-organ vital.
Tubuh secara tidak sadar “mencari” hal lucu demi meredakan ketegangan fisik tersebut.
4. Pelampiasan Emosi (Emotional Catharsis)
Pernahkah Anda tertawa begitu keras hingga keluar air mata? Batas antara menangis dan tertawa saat stres sangatlah tipis.
Keduanya adalah bentuk pelepasan emosi atau katarsis.
Saat tekanan emosional menumpuk, tubuh butuh saluran pembuangan.
Humor receh sering kali menjadi pemicu ledakan tawa yang tak terkontrol. Ini adalah cara sistem saraf Anda melakukan “reset” ulang agar tidak meledak karena tekanan.
5. Kerinduan akan Koneksi Sosial
Saat stres, seseorang cenderung merasa terisolasi atau sendirian memikul beban.
Humor receh, seperti meme viral atau video lucu, adalah bahasa universal.
Menertawakan hal yang sama dengan orang lain menciptakan rasa terhubung dan senasib sepenanggungan.
“Receh” bersama teman kantor di tengah lembur adalah cara untuk saling menguatkan dan validasi bahwa, “Ya, situasi ini memang gila, mari kita tertawa saja.”
Jadi, jangan merasa bersalah jika selera humor Anda mendadak anjlok saat sedang sibuk-sibuknya.
Itu adalah cara cerdas tubuh Anda untuk bertahan dan menjaga kewarasan di tengah gempuran stres.
Tertawalah, karena itu adalah obat yang paling murah dan mujarab.
Baca Juga: Lembur Sesekali Itu Perlu? 4 Keuntungan Karier yang Sering Diabaikan
(Mira)
















