Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana tumpukan pekerjaan menggunung, tenggat waktu (deadline) semakin dekat, namun Anda justru tertawa terpingkal-pingkal hanya karena melihat video orang tersandung atau membaca tebakan bapak-bapak di grup WhatsApp?
Fenomena ini sering kita alami.
Saat pikiran sedang jernih, lelucon sederhana atau “receh” mungkin terasa garing dan tidak lucu.
Namun, saat tekanan hidup meningkat, standar kelucuan kita seolah terjun bebas.
Hal-hal sepele tiba-tiba menjadi sangat menghibur.
Ternyata, perubahan selera humor ini bukan tanda penurunan kecerdasan, melainkan respons alami otak.
Berikut adalah 5 alasan mengapa semakin kita stres, humor kita justru semakin receh.
1. Otak Sedang Menghemat Energi (Cognitive Economy)
Saat stres, otak bagian depan (prefrontal cortex) yang bertugas untuk berpikir kritis dan analitis sedang bekerja sangat keras.
Otak Anda mengalami kelelahan kognitif.
Dalam kondisi ini, otak tidak memiliki cukup energi untuk memproses lelucon yang rumit, sarkasme tingkat tinggi, atau satir politik yang membutuhkan analisis.
Humor receh menawarkan jalan pintas. Strukturnya sederhana, mudah dipahami, dan memberikan kepuasan instan tanpa membebani otak yang sudah lelah.
2. Mekanisme Pertahanan Diri (Defense Mechanism)
Psikologi mengenal istilah humor sebagai salah satu mekanisme pertahanan diri yang matang.
Saat menghadapi situasi yang menakutkan atau menekan, tertawa adalah cara tubuh untuk berkata, “Ini tidak seserius itu, aku bisa mengatasinya.”
Humor receh sering kali bersifat absurd atau konyol.
Kekonyolan ini menciptakan jarak (distancing) antara Anda dan sumber stres. Dengan menertawakan hal bodoh, Anda sejenak melupakan realitas yang berat.
















