Lewat Photovoice, Warga Pontianak Rekam Realitas Banjir untuk Dorong Kebijakan Publik

Warga dan peserta menyimak pemaparan dalam acara Diseminasi Photovoice Banjir Pontianak di Rumah Budaya Gang Hj Salmah. (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Warga dan peserta menyimak pemaparan dalam acara Diseminasi Photovoice Banjir Pontianak di Rumah Budaya Gang Hj Salmah. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

“Isu banjir sudah masuk dalam isu strategis Kota Pontianak. Dalam perencanaan jangka pendek, menengah, hingga panjang, aspek ketahanan kota, risiko bencana, dan kualitas lingkungan hidup telah kami masukkan,” jelas Sidig.

Sidig menilai Photovoice menjadi instrumen penting untuk menangkap perspektif masyarakat sebagai dasar pengambilan kebijakan yang kontekstual.

“Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat bagaimana masyarakat memaknai banjir—apakah sebagai bencana, genangan biasa, atau sesuatu yang dianggap wajar. Semua pandangan itu penting untuk didengar,” tegasnya.

Baca Juga: Aturan Baru Lebih Ketat, Jemaah Haji Pontianak Wajib Kantongi Status Istitha’ah Sebelum Pelunasan

Sementara itu, Akademisi Universitas Waterloo, Kanada, Stefan Steiner, menyoroti pentingnya integrasi antara data ilmiah dan pengalaman warga.

Ia menyebut bahwa model sains saja tidak cukup untuk menggambarkan kompleksitas risiko banjir yang dialami manusia.

“Warga Pontianak memahami kotanya lebih baik daripada siapa pun. Pengalaman hidup dan pengetahuan lokal mereka sangat penting dalam merumuskan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim,” kata Stefan.

Program ini merupakan mandat dari FinCAPES yang telah berjalan sejak Oktober 2025, melibatkan 30 fotografer warga dari delapan kawasan rawan banjir di 21 kelurahan.

Hasil karya warga ini kemudian dipamerkan sebagai ruang dialog antara masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi mitigasi yang lebih efektif.

(fr)