Simbol Melawan Lupa: Mengenal Sejarah dan Makna di Balik Aksi Kamisan

"Apa itu Aksi Kamisan? Temukan sejarah aksi diam berpayung hitam di depan Istana Negara yang telah berjalan sejak 2007 demi menuntut tuntasnya kasus pelanggaran HAM berat."
Apa itu Aksi Kamisan? Temukan sejarah aksi diam berpayung hitam di depan Istana Negara yang telah berjalan sejak 2007 demi menuntut tuntasnya kasus pelanggaran HAM berat. (Dok. Ist)

Makna Filosofis Hitam dan Payung

Atribut yang digunakan dalam Aksi Kamisan bukanlah tanpa arti. Setiap elemen visual membawa pesan yang mendalam:

  1. Warna Hitam: Melambangkan duka cita yang mendalam. Namun, hitam di sini juga merepresentasikan keteguhan hati dan cinta kasih keluarga korban yang tak pernah pudar meski digerus waktu.
  2. Payung Hitam: Payung adalah simbol perlindungan. Penggunaan payung menyimbolkan bahwa negara seharusnya menjadi “payung” yang melindungi warganya, bukan justru menjadi aktor yang melukai rakyatnya sendiri.
  3. Aksi Diam: Menunjukkan bahwa kata-kata sudah tidak lagi didengar. Diam adalah bentuk protes paling keras ketika suara keadilan dibungkam.

Kasus-Kasus yang Disuarakan

Selama bertahun-tahun berdiri di depan istana, Aksi Kamisan konsisten membawa berkas tuntutan penyelesaian berbagai tragedi kemanusiaan, di antaranya:

  • Tragedi 1965-1966.
  • Peristiwa Tanjung Priok (1984).
  • Peristiwa Talangsari (1989).
  • Tragedi Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II (1998-1999).
  • Penghilangan Paksa Aktivis (1997-1998).
  • Pembunuhan Munir Said Thalib (2004).

Aksi Kamisan bukan sekadar ritual mingguan; ia adalah pengingat bahwa bangsa yang besar tidak boleh melupakan sejarah kelamnya.

Keberadaan payung-payung hitam di depan istana adalah bukti bahwa luka para korban belum sembuh, dan utang keadilan negara kepada warganya belum lunas dibayar.

Selama keadilan belum tegak, maka selama itu pula mereka akan terus ada, berdiri tegak melawan lupa.

Baca Juga: Menolak Lupa: 5 Cermin Retak ‘Laut Bercerita’ yang Masih Menghantui Indonesia Hari Ini

(Mira)