“Kapal perang yang beroperasi di wilayah tanggung jawab armada secara teratur berpatroli di Indo-Pasifik untuk mencegah agresi, memperkuat aliansi dan kemitraan, serta memajukan perdamaian melalui kekuatan,” ujar Comer.
Namun, konteks geopolitik berkata lain.
Kehadiran USS Abraham Lincoln di perairan sengketa ini terjadi tak lama setelah Beijing meluncurkan latihan militer bertajuk “Justice Mission 2025” pada akhir Desember lalu yang mengepung Taiwan.
Latihan China tersebut diklaim sebagai tindakan penghukuman terhadap pihak yang mendukung kemerdekaan Taiwan.
Hingga Jumat, citra satelit dan foto resmi menunjukkan USS Abraham Lincoln masih bertahan di Laut China Selatan.
Kapal induk ini didampingi oleh kapal perusak berpeluru kendali USS Spruance, serta sebelumnya bergerak bersama USS Michael Murphy dan USS Frank E. Peterson Jr.
Armada ini sempat singgah di Guam pada pertengahan Desember sebelum akhirnya menusuk masuk ke Laut Filipina dan Laut China Selatan.
Peningkatan aktivitas militer di utara Natuna ini tentu menuntut kewaspadaan Indonesia, mengingat eskalasi konflik antara kekuatan besar dunia kini semakin nyata di depan mata.
(ra)
















