“Kalau orang yang menambang dengan peralatan besar, tapi ngakunya miskin, itu adalah serakah, dia nggak puas,” imbuhnya.
Ancaman Merkuri dan Stunting
Selain menyoroti para cukong, Pipit juga mengkhawatirkan dampak penggunaan bahan kimia berbahaya seperti sianida dan merkuri dalam proses pengolahan emas.
Ia mengingatkan bahwa limbah beracun tersebut mencemari perairan dan meracuni ikan yang masyarakat konsumsi.
Hal ini, menurutnya, berdampak langsung pada tingginya angka stunting di Kalimantan Barat.
“Bayangkan makan ikan di dalamnya ada kandungan merkuri, berapa anak kita yang stunting. Stunting itu bukan hanya badannya, otaknya juga ikut stunting,” ujar Kapolda Kalbar dengan nada prihatin.
Kerusakan Lingkungan Permanen
Mantan Dirtipidter Bareskrim Polri ini juga menyoroti kerusakan permanen pada struktur tanah akibat pengerukan yang tidak terkendali.
Baca Juga: Sasar 4 Kabupaten/Kota, Pemprov Lampung Hentikan Paksa Puluhan Aktivitas Tambang Ilegal
Ia mempertanyakan keuntungan segelintir orang yang harus mengorbankan keselamatan lingkungan jangka panjang.
“Begitu bawahnya udah dikerok-kerok, nanti terjadi kayak Lapindo, mau seperti itu? Itu ada di dalam perut bumi, diganggu-ganggu, itu menguntungkan memperkaya berapa orang,” tanyanya menutup pernyataan.
(*Sari)
















