“Swasembada beras yang dicapai berhasil membuat Indonesia tidak lagi mengimpor beras. Meski demikian pangan lain seperti jagung, kentang, hingga sagu dan ubi jalar, termasuk pangan untuk protein seperti kedelai dan daging (masih impor),” ungkap Emanuella, Kamis (8/1/2026).
Ancaman “Bom Waktu” Stok Menumpuk
Selain isu ketimpangan komoditas, rekor stok beras di gudang Bulog yang mencapai 4,62 juta ton juga memunculkan tantangan krusial yang bersifat teknis.
Penumpukan stok dalam jumlah masif tanpa manajemen logistik yang mumpuni berpotensi menimbulkan masalah baru, yakni penurunan kualitas beras atau pembusukan di gudang.
Pemerintah dituntut memiliki mekanisme maintenance yang ketat agar stok cadangan tersebut tidak berakhir menjadi limbah yang merugikan negara, seperti kasus-kasus turun mutu beras (disposal stock) yang pernah terjadi sebelumnya saat stok melimpah.
Tantangan Pemerataan dan Teknologi
Analisis juga menyoroti bahwa keberhasilan produksi saat ini masih dihantui oleh faktor eksternal yang belum sepenuhnya terkendali, seperti perubahan iklim ekstrem, ketersediaan pupuk, dan sistem irigasi.
Tantangan ke depan adalah memastikan produksi beras tidak hanya terpusat di lumbung pangan tradisional, melainkan merata hingga ke daerah non-unggulan.
Pemanfaatan teknologi pertanian dari hulu ke hilir dinilai menjadi syarat mutlak jika Indonesia ingin memperluas status swasembada ini ke komoditas lain dan bukan hanya sekadar “jago kandang” di sektor beras semata.
Baca Juga: Bantuan Beras UEA Disalurkan Lewat Muhammadiyah
(Mira)
















