Euforia Swasembada Beras 2025, Pemerintah “Ditodong” Realita Impor Daging dan Kedelai yang Masih Tinggi

"Di tengah euforia swasembada beras 2025, pemerintah diingatkan akan PR besar ketergantungan impor kedelai dan daging. Stok beras rekor juga memicu kekhawatiran soal manajemen kualitas."
Di tengah euforia swasembada beras 2025, pemerintah diingatkan akan PR besar ketergantungan impor kedelai dan daging. Stok beras rekor juga memicu kekhawatiran soal manajemen kualitas. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, NASIONAL – Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah merayakan keberhasilan mencetak swasembada beras pada tahun 2025.

Namun, di balik rekor produksi dan stok yang melimpah, data menunjukkan bahwa ketahanan pangan nasional masih “pincang” akibat tingginya ketergantungan impor pada sumber protein utama seperti kedelai dan daging.

Pencapaian swasembada beras tersebut diumumkan langsung oleh Presiden dalam acara Panen Raya di Karawang, Rabu (7/1/2026).

Data mencatat produksi beras tahun 2025 menembus angka 34,62 juta ton, melonjak signifikan dibandingkan tahun 2024 yang hanya 31 juta ton.

Baca Juga: Tembus Jalur Longsor, Pasukan Trail TNI AD Angkut 10 Ton Beras ke Bener Meriah & Aceh Tengah

Keberhasilan ini juga tercermin dari stok Perum Bulog yang mencapai rekor tertinggi sejak 1980, yakni 4,62 juta ton atau naik dua kali lipat.

Meski demikian, Agrifood Analyst CNBC Indonesia Research, Emanuella Bungasmara Ega Tirta, mengingatkan agar pemerintah tidak terlena dengan euforia satu komoditas saja.

Dalam analisisnya, ia menyoroti fakta bahwa label “swasembada pangan” belum sepenuhnya layak disematkan jika hanya mengacu pada beras.

“Swasembada beras yang dicapai berhasil membuat Indonesia tidak lagi mengimpor beras. Meski demikian pangan lain seperti jagung, kentang, hingga sagu dan ubi jalar, termasuk pangan untuk protein seperti kedelai dan daging (masih impor),” ungkap Emanuella, Kamis (8/1/2026).

Ancaman “Bom Waktu” Stok Menumpuk

Selain isu ketimpangan komoditas, rekor stok beras di gudang Bulog yang mencapai 4,62 juta ton juga memunculkan tantangan krusial yang bersifat teknis.

Penumpukan stok dalam jumlah masif tanpa manajemen logistik yang mumpuni berpotensi menimbulkan masalah baru, yakni penurunan kualitas beras atau pembusukan di gudang.

Pemerintah dituntut memiliki mekanisme maintenance yang ketat agar stok cadangan tersebut tidak berakhir menjadi limbah yang merugikan negara, seperti kasus-kasus turun mutu beras (disposal stock) yang pernah terjadi sebelumnya saat stok melimpah.

Tantangan Pemerataan dan Teknologi

Analisis juga menyoroti bahwa keberhasilan produksi saat ini masih dihantui oleh faktor eksternal yang belum sepenuhnya terkendali, seperti perubahan iklim ekstrem, ketersediaan pupuk, dan sistem irigasi.

Tantangan ke depan adalah memastikan produksi beras tidak hanya terpusat di lumbung pangan tradisional, melainkan merata hingga ke daerah non-unggulan.

Pemanfaatan teknologi pertanian dari hulu ke hilir dinilai menjadi syarat mutlak jika Indonesia ingin memperluas status swasembada ini ke komoditas lain dan bukan hanya sekadar “jago kandang” di sektor beras semata.

Baca Juga: Bantuan Beras UEA Disalurkan Lewat Muhammadiyah

(Mira)