Apakah Rasus mencintai Srintil? Ya.
Namun, cintanya bersifat posesif dan penuh syarat.
Rasus mencintai Srintil sebagai perempuan biasa, tetapi ia membenci Srintil sebagai Ronggeng.
Konflik batin Rasus memuncak ketika ia menolak menikahi Srintil jika perempuan itu tetap menari.
Rasus tidak bisa menerima konsep “milik bersama” yang melekat pada seorang ronggeng.
Dalam hal ini, Rasus mewakili pandangan moralitas modern/luar yang bentrok dengan nilai adat desa setempat.
Ia mencintai Srintil, tapi ia lebih mencintai harga dirinya sendiri.
4. Jembatan Dua Dunia
Secara sosiologis, tokoh Rasus berfungsi sebagai jembatan.
Ia adalah satu-satunya karakter yang bisa bolak-balik antara dunia Dukuh Paruk (pedalaman/tradisional) dan dunia Dawuan (kota kecamatan/modern/militer).
Melalui mata Rasus, pembaca diajak melihat betapa rentannya masyarakat desa yang buta huruf terhadap gejolak politik tahun 1965.
Rasus selamat karena ia berada di pihak “seragam”, sementara teman-teman masa kecilnya hancur karena ketidaktahuan mereka akan politik.
Di sini, Rasus berdiri di posisi yang sunyi: ia selamat, tapi ia kehilangan akarnya.
Rasus adalah tokoh yang tragis dengan caranya sendiri.
Ia berhasil keluar dari kemiskinan Dukuh Paruk, ia mendapatkan seragam dan senjata, namun jiwanya tetap kosong.
Ia adalah potret manusia yang sukses melakukan mobilitas sosial, namun gagal menyelamatkan hal yang paling berharga di masa lalunya: cinta dan kepolosan.
Baca Juga: Apa Itu Bibliophile? Cek Ciri-ciri Penggila Buku di Sini
(*Mira)
















