Rasus: Antara Cinta, Seragam Tentara, dan Dendam pada Dukuh Paruk

"Siapa sebenarnya Rasus dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk? Simak analisis mendalam tentang psikologi Rasus: antara cinta Srintil, ambisi jadi tentara, dan dendam masa lalu."
Siapa sebenarnya Rasus dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk? Simak analisis mendalam tentang psikologi Rasus: antara cinta Srintil, ambisi jadi tentara, dan dendam masa lalu. (Dok. Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dalam mahakarya Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, pembicaraan seringkali didominasi oleh sosok Srintil, sang penari yang magis dan tragis.

Namun, novel (dan adaptasi filmnya Sang Penari) tidak akan bergerak tanpa Rasus.

Rasus bukan sekadar tokoh utama pria atau kekasih yang patah hati.

Ia adalah representasi dari konflik batin manusia yang terjebak di antara tradisi yang dianggap kolot dan modernitas yang menjanjikan harga diri.

Baca Juga: Melampaui Kisah Fiksi, Ini 4 Potret Getir ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ yang Masih Relevan hingga Kini

Rasus adalah “mata” pembaca untuk melihat kenaifan sekaligus kebobrokan Dukuh Paruk.

Berikut adalah bedah karakter Rasus yang memperlihatkan mengapa ia adalah salah satu tokoh paling kompleks dalam sastra Indonesia:

1. Simbol Perlawanan Terhadap Tradisi

Berbeda dengan warga Dukuh Paruk yang memuja roh Ki Secamenggala, Rasus tumbuh dengan skeptisme dan kebencian.

Ia membenci Dukuh Paruk karena kemiskinannya, kebodohannya, dan terutama karena budaya ronggeng yang merenggut perempuan-perempuan yang dicintainya (ibunya, lalu Srintil).

Rasus mewakili logika dan rasionalitas di tengah masyarakat yang mistis.

Ia adalah orang pertama yang “sadar” bahwa lingkaran kemiskinan di desanya hanya bisa diputus dengan cara pergi meninggalkan desa tersebut.

2. Inferiority Complex (Rasa Rendah Diri) yang Akut

Di awal cerita, Rasus digambarkan sebagai pemuda yang penuh rasa minder.

Ia merasa dirinya hina, miskin, dan tidak berdaya. Motivasi terbesar Rasus dalam hidup bukanlah cinta murni, melainkan pencarian validasi dan harga diri.

Keputusannya menjadi tobang (pembantu tentara) dan kemudian menjadi tentara sungguhan, didasari oleh keinginan untuk dihormati.

Ia ingin membuktikan kepada Srintil dan warga Dukuh Paruk bahwa ia bukan lagi “anak singkong” yang bisa diremehkan.

Seragam hijau tentara adalah kulit baru yang ia pakai untuk menutupi rasa rendah dirinya.

3. Cinta yang Egois dan Penuh Syarat