Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dalam lanskap sinema Indonesia yang mengangkat tema budaya, film berjudul “Gowok” hadir sebagai sebuah karya yang berani namun sering disalahartikan.
Alih-alih hanya dipandang sebagai tontonan yang memuaskan hasrat voyeuristik penonton, film ini sejatinya adalah sebuah studi antropologis visual tentang bagaimana masyarakat Jawa masa lampau memandang kedewasaan, tanggung jawab, dan seksualitas.
Menonton “Gowok” memerlukan kedewasaan berpikir.
Film ini mengajak kita menyingkirkan kacamata modern sejenak untuk memahami sebuah tradisi yang kini mungkin dianggap kontroversial, namun pernah memiliki fungsi sosial yang dianggap vital pada zamannya.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai film “Gowok” dari perspektif budaya dan humanis:
1. Narasi yang Mengangkat Sisi Kemanusiaan, Bukan Eksploitasi
Kekuatan utama film ini terletak pada cara sutradara memanusiakan karakter “Gowok” itu sendiri.
Sosok perempuan dalam film ini tidak digambarkan semata-mata sebagai objek pemuas nafsu laki-laki, melainkan sebagai seorang “guru” atau pemegang pengetahuan (gatekeeper of knowledge).
Film ini dengan apik memperlihatkan beban psikologis yang diemban oleh perempuan yang berprofesi sebagai Gowok.
Ia memiliki agensi dan otoritas di dalam bilik kamar, tempat di mana ia mentransfer pengetahuan tentang tubuh dan etika berumah tangga.
Film ini berhasil menghindari jebakan male gaze (sudut pandang lelaki) yang berlebihan dengan memberikan ruang bagi emosi dan perspektif perempuan dalam menjalankan perannya.
2. Kritik Halus Terhadap Beban Maskulinitas
Seringkali yang dibahas adalah posisi perempuannya, namun film ini juga secara implisit menyoroti tekanan sosial pada laki-laki muda.
Karakter laki-laki digambarkan penuh kecemasan, ketidaktahuan, dan beban tuntutan sosial untuk menjadi “lelaki sejati” sebelum menikah.
Film ini menunjukkan bahwa patriarki dan tradisi kolot tidak hanya membelenggu perempuan, tetapi juga memberikan beban ekspektasi yang berat kepada laki-laki.
Prosesi Gowok dalam film ini digambarkan bukan sebagai ajang hura-hura, melainkan sebuah ritus peralihan (rite of passage) yang sakral, tegang, dan penuh tata krama.
3. Visualisasi yang Estetik dan Penuh Simbol
Secara sinematografi, “Gowok” memilih pendekatan yang artistik ketimbang vulgar.
Penggunaan pencahayaan yang remang, dominasi warna tanah dan kayu, serta detail properti khas Jawa membangun atmosfer yang mistis dan historis.
Adegan-adegan intim ditampilkan dengan penuh simbolisme menggunakan metafora bahasa tubuh dan dialog yang puitis sehingga penonton diajak untuk memahami esensi penyatuan dan pembelajaran, bukan sekadar aktivitas fisik.
















