AS Invasi Venezuela, Kuba Terancam Runtuh

Pasokan minyak dari Venezuela terhenti akibat invasi AS, ekonomi Kuba terancam runtuh. (Dok. Ist)
Pasokan minyak dari Venezuela terhenti akibat invasi AS, ekonomi Kuba terancam runtuh. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Warga Kuba kini hidup dalam bayang-bayang kecemasan. Serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela menempatkan negara komunis itu di posisi kritis. Penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan AS secara otomatis memutus jalur pasokan minyak utama bagi Havana, yang selama ini menjadi penopang ekonomi mereka.

Kondisi ini membuat posisi Kuba kian terpojok. Presiden AS, Donald Trump, bahkan memprediksi bahwa Kuba akan segera runtuh tanpa perlu aksi militer langsung dari Washington.

Trump meyakini Havana akan kesulitan bertahan tanpa subsidi minyak dari sekutu ideologisnya tersebut.

Baca Juga: AS Tangkap Maduro, DK PBB Gelar Rapat Darurat

Kekhawatiran akan dampak ekonomi ini dirasakan langsung oleh masyarakat sipil di Havana. Axel Alfonso (53), seorang sopir yang bekerja di perusahaan milik negara, memprediksi tahun yang sulit bagi negaranya.

“2026 akan menjadi tahun yang berat, sangat berat,” ungkap Alfonso, Senin (5/1/2026).

Alfonso menyadari betapa vitalnya peran Venezuela bagi kelangsungan energi di negaranya.

“Kalau Venezuela adalah pemasok utama, setidaknya untuk minyak, ini akan jadi sedikit rumit,” tambahnya.

Ketergantungan Havana terhadap Caracas memang sangat tinggi. Data menunjukkan bahwa pada kuartal terakhir 2025, Venezuela rutin mengirimkan 30.000 hingga 35.000 barel minyak per hari ke Kuba.

Jorge Pinon, pakar energi dan peneliti dari University of Texas, menyoroti besarnya angka tersebut. Ia menyebut pasokan itu mewakili 50 persen dari defisit minyak pulau ini.

Pinon menilai Kuba tidak memiliki sumber daya finansial untuk membeli minyak sebanyak itu di pasar internasional jika pasokan dari Venezuela terhenti total.

Situasi ini memperburuk krisis yang sudah ada. Produk domestik bruto (PDB) Kuba tercatat telah menyusut 11% dalam lima tahun terakhir akibat sanksi AS dan pandemi.

Ketakutan akan masa depan yang suram juga diungkapkan oleh Daira Perez (30), seorang pengacara.