“Sangat sulit untuk dibilang ini tidak diorkestrasi atau tidak ada yang memerintahkan,” kata Sherly.
Menurutnya, intimidasi ini semakin intens muncul setelah ia tampil di publik membahas kondisi masyarakat Aceh yang menjadi korban bencana.
“Teror-teror ini terasa sekali setelah Sherly yang memang berasal dari Aceh/Sumatera, ikut memberikan pandangan di beberapa acara TV,” jelasnya.
Ia mengaku situasi ini mengingatkannya pada kejadian serupa tahun 2019, saat ia mengkritik wacana pemindahan ibu kota di era pemerintahan Joko Widodo.
Baca Juga: Update Banjir Sumatra: Korban Meninggal Tembus 1.106 Jiwa
Sherly meminta pelaku dan dalang di balik teror ini untuk berhenti, sembari menegaskan bahwa dirinya maupun pihak lain yang bersuara soal bencana bukanlah musuh negara.
Kritik yang disampaikan Sherly berkaitan dengan bencana ekologis banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Pulau Sumatera bagian utara sejak akhir November 2025. Bencana ini meluas hingga mencakup 52 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (30/12/2025), dampak kerusakan tercatat sangat masif. Bencana ini mengakibatkan sekitar 1.141 orang meninggal dunia dan 163 orang masih dinyatakan hilang.
Selain korban jiwa, BNPB melaporkan sekitar 399.200 warga terpaksa mengungsi. Kerusakan fisik juga meliputi lebih dari 166.000 unit rumah serta ribuan fasilitas umum, kesehatan, pendidikan, dan jembatan yang rusak parah.
(*Red)
















