Menyamar Jadi Kapal Polandia: Kisah Rahasia Perjalanan “Hiu Kencana” RI Nanggala dari Soviet ke Surabaya

Penampakan kapal selam RI Nanggala (eks S-79 Uni Soviet) saat bersandar di dermaga. Kapal ini menjadi ujung tombak kekuatan bawah laut Indonesia dalam merebut kembali Irian Barat pada era 1960-an. (Dok. Submarines.id)
Penampakan kapal selam RI Nanggala (eks S-79 Uni Soviet) saat bersandar di dermaga. Kapal ini menjadi ujung tombak kekuatan bawah laut Indonesia dalam merebut kembali Irian Barat pada era 1960-an. (Dok. Submarines.id)

Faktakalbar.id, SURABAYA – Musim panas tahun 1959 menjadi saksi bisu bagaimana geopolitik dunia yang sedang memanas turut menyeret Indonesia ke dalam pusaran Perang Dingin.

Kala itu, Jakarta tengah menyusun kekuatan besar untuk satu tujuan mutlak: merebut kembali Irian Barat dari cengkeraman Belanda.

Baca Juga: Kemenhan Luncurkan KSOT, Indonesia Negara Ke-4 Produsen Kapal Selam Otonom

Di tengah ambisi tersebut, sebuah operasi senyap digelar di perairan utara untuk mendatangkan monster bawah laut yang kelak dikenal sebagai RI Nanggala.

Pilihan jatuh pada S-79, sebuah kapal selam tangguh milik Angkatan Laut Uni Soviet.

Sebelum diserahkan kepada Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), kapal ini menjalani perbaikan total (refit) di galangan kapal Dalzavod. Uniknya, meriam artileri yang sempat dilepas, dipasang kembali sesuai spesifikasi aslinya demi memenuhi kebutuhan tempur Indonesia yang spesifik saat itu.

Operasi Bendera Palsu

Agustus 1959, dimulailah sebuah perjalanan rahasia yang penuh risiko.

S-79, bersama saudaranya S-91 dan kapal tanker pendukung Polyarnik, bertolak dari Vladivostok menuju Surabaya.

Namun, perjalanan ini bukan pelayaran biasa.

Demi menghindari pantauan radar dan mata-mata Blok Barat yang mencurigai pergerakan militer komunis ke Asia Tenggara, sebuah taktik intelijen klasik diterapkan.

Kapal-kapal perang Soviet ini tidak mengibarkan bendera Palu Arit, melainkan berlayar di bawah bendera Polandia.

Penyamaran ini dilakukan seolah-olah kapal tersebut adalah milik negara yang dianggap lebih “netral” secara politik, sebuah muslihat untuk mengelabui lawan di tengah laut lepas.

“Demi menjaga kerahasiaan tingkat tinggi dari pantauan blok Barat, sebuah penyamaran digunakan: Kapal-kapal Soviet ini berlayar menggunakan bendera Polandia,” catat sejarah perjalanan tersebut.

Lahirnya Sang Nanggala

Sebulan berselang, tepatnya September 1959, konvoi rahasia tersebut tiba di Surabaya.

Di sinilah identitas asli dikembalikan.

Bendera Angkatan Laut Uni Soviet diturunkan perlahan, digantikan oleh Sang Saka Merah Putih yang berkibar gagah.

S-79 resmi berganti nama menjadi RI Nanggala, mengambil nama senjata pusaka pewayangan yang dikenal sakti mandraguna.

Awalnya, kapal ini diberi nomor lambung S-02, namun dalam catatan sejarah selanjutnya lebih dikenal dengan nomor 407—berbeda dengan KRI Nanggala-402 (Type 209) yang hadir di era modern.

Baca Juga: Perkuat Alutsista Laut, Barata Indonesia Pasok V-Bracket untuk Frigate Merah Putih KRI Balaputradewa-322