Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dalam pergaulan sehari-hari, masyarakat sering melabeli seseorang yang pendiam sebagai introvert dan yang ramai sebagai ekstrovert. Namun, pemahaman umum ini sering kali kurang tepat secara medis.
Memahami perbedaan introvert dan ekstrovert sesungguhnya bukan sekadar menilai perilaku sosial, melainkan mengenali cara otak manusia memproses energi.
Psikolog menegaskan bahwa tipe kepribadian ini mempengaruhi bagaimana seseorang mengisi ulang energi mental mereka.
Salah memahami konsep dasar ini sering kali memicu kesalahpahaman dalam hubungan kerja maupun personal.
Baca Juga: 5 Cara Ampuh Introvert Mengembalikan Energi
Asal Usul: Energi Keluar vs Energi Masuk
Istilah ini pertama kali populer lewat psikiater asal Swiss, Carl Gustav Jung, pada tahun 1920-an. Dalam teori kepribadiannya, Jung tidak membedakan keduanya berdasarkan sifat pemalu atau pemberani, melainkan berdasarkan arah energi psikis seseorang.
Jung menjelaskan bahwa seorang ekstrovert mendapatkan energi dari interaksi dengan dunia luar (outward turning). Sebaliknya, seorang introvert memusatkan energi ke dalam diri sendiri (inward turning). Itulah sebabnya, seorang introvert sering merasa lelah setelah bersosialisasi panjang, sementara ekstrovert justru merasa hidup saat berada di keramaian.
















