Stop Stigma, Anak dengan HIV Bisa Hidup Normal

Pita merah di tangan anak sebagai simbol dukungan untuk menghapus stigma HIV/AIDS. Jauhi virusnya, bukan orangnya.
Pita merah di tangan anak sebagai simbol dukungan untuk menghapus stigma HIV/AIDS. Jauhi virusnya, bukan orangnya.

Faktakalbar,id, LIFESTYLE – Lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas masih sering memberikan stigma dan diskriminasi terhadap anak dengan HIV.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) melalui laman resminya menegaskan urgensi untuk menghapus perlakuan buruk tersebut dengan prinsip jauhi virusnya, bukan orangnya.

Stigma negatif membuat lingkungan sering menjauhi dan memperlakukan anak dengan HIV secara berbeda.

Baca Juga: Kenali Tanda Pola Asuh Penentu Kesuksesan Anak

Padahal, penularan HIV tidak terjadi melalui aktivitas sosial sehari-hari. Anak-anak tetap aman bermain bersama, berjabat tangan, atau berbagi makanan tanpa menularkan virus.

Dampak Psikologis pada Anak

Perlakuan diskriminatif memberikan dampak langsung pada kondisi psikologis anak. Mereka rentan merasa terasing, kehilangan rasa percaya diri, hingga mengalami tekanan emosional sejak usia dini.

Dampak psikologis yang berkelanjutan berpotensi mengganggu kepatuhan anak dalam menjalani pengobatan.

Saat anak merasa lingkungan menolaknya, motivasi mereka untuk berobat secara rutin dapat menurun.

Terapi ARV Bantu Tumbuh Kembang

Padahal, terapi antiretroviral (ARV) memungkinkan anak dengan HIV untuk tumbuh dan berkembang secara normal seperti teman sebayanya.

Pengobatan yang teratur bekerja menekan jumlah virus dalam tubuh hingga ke tingkat yang tidak terdeteksi.

Kondisi kesehatan yang terjaga membuat anak tetap sanggup bersekolah, bersosialisasi, dan merencanakan masa depan.

Anak dengan HIV memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan dan perlindungan tanpa diskriminasi.

Baca Juga: Jangan Asal Didik! Ini 5 Rekomendasi Buku Parenting yang Wajib Dibaca Orang Tua

Keluarga dan lingkungan memegang peran penting dalam memberikan dukungan emosional.

Upaya penanggulangan HIV memerlukan penghapusan stigma sosial dengan fokus menjauhi virusnya, bukan orangnya.

(*Sari)