“Solusi yang lebih baik adalah belajar dari negara-negara seperti Swiss, di mana sekitar dua pertiga anak muda mengikuti pelatihan kejuruan setelah 11 tahun pendidikan wajib. Sistem ini berhasil karena memiliki permeabilitas artinya siswa dapat dengan mudah berpindah bolak-balik antara jalur kejuruan dan akademis,” ungkap Ursula Renold.
Tren Magang Sambil Kuliah
Merespons kesenjangan keterampilan ini, program magang modern mulai menjamur. BAE Systems, produsen senjata asal Inggris, menjalankan program magang yang menerima ribuan peserta.
Richard Hamer, direktur pendidikan perusahaan tersebut, menilai program ini sangat efektif.
“Program ini jelas menguntungkan bagi para peserta magang dan perusahaan, yang sebelumnya kesulitan menemukan lulusan dengan keterampilan yang tepat,” kata Richard Hamer.
Peserta magang pun merasakan manfaat langsung. Laché, seorang mahasiswi magang jurusan teknik kedirgantaraan berusia 20 tahun yang mengerjakan teknologi kokpit jet tempur Tempest, mengungkapkan antusiasmenya.
“Ini sangat, sangat, sangat, sangat keren,” katanya.
Tren serupa terjadi di Amerika Serikat melalui program TSMC di Arizona.
Baca Juga: Bukan Cuma Soal Cuan, Ini 5 Alasan Gen Z Memilih Kerja Sambil Kuliah
Nolan Cunningham, seorang magang teknisi proses berusia 23 tahun, memilih jalur ini demi menghindari jeratan finansial.
“Saya tidak ingin menghabiskan uang yang saya hasilkan untuk membayar pinjaman mahasiswa selama 25 tahun ke depan. Itu hanya akan melumpuhkan Anda,” katanya.
Kini, Nolan bekerja memantau sistem manufaktur sembari menempuh pendidikan nanoteknologi yang dibiayai perusahaan, membuktikan bahwa jalur sukses tidak selalu harus melalui rute akademis tradisional yang mahal.
(*Sari)
















