Biaya Kuliah Mahal, Pendidikan Tinggi Mulai Ditinggalkan

Generasi muda (Gen Z) kini semakin meminati pekerjaan terampil di sektor manufaktur dan teknis sebagai alternatif jalur karier yang menjanjikan selain pendidikan tinggi tradisional. (Dok. Freepik)
Generasi muda (Gen Z) kini semakin meminati pekerjaan terampil di sektor manufaktur dan teknis sebagai alternatif jalur karier yang menjanjikan selain pendidikan tinggi tradisional. (Dok. Freepik)

Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Paradigma global dunia pendidikan kini menghadapi guncangan hebat. Generasi muda mulai memalingkan wajah dari pendidikan tinggi, terpicu oleh biaya yang mencekik dan keraguan akan relevansi keterampilan di dunia kerja.

Sebuah tren baru sedang bergeser, di mana gelar sarjana tidak lagi menjadi satu-satunya jaminan masa depan.

Lembaga riset Gallup merilis survei terbaru yang mengungkap fakta mengejutkan, hampir seperempat warga Amerika Serikat kini menyatakan tidak memiliki kepercayaan pada pendidikan tinggi.

Sebagian besar dari mereka bahkan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah.

Baca Juga: Bukan Tak Mampu, Ini 4 Alasan Logis Kenapa Gen Z Lebih Pilih Sewa Apartemen Ketimbang Beli Rumah

Alasan kuat dan nyata mendasari skeptisisme ini. Biaya kuliah menjadi faktor utama.

Data menunjukkan biaya rata-rata untuk gelar empat tahun di universitas negeri Amerika telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 30 tahun terakhir.

Selain masalah biaya, banyak generasi muda merasa universitas tidak mengajarkan keterampilan yang relevan. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) turut memperkeruh situasi.

Studi terbaru dari Stanford, Harvard, dan King’s College London menemukan bahwa perusahaan yang mengadopsi AI generatif cenderung mempekerjakan lebih sedikit pekerja profesional junior, mempersulit lulusan baru mendapatkan pekerjaan pertama.

Kebangkitan Sekolah Kejuruan dan Pekerja Kerah Biru

Ketika kepercayaan pada universitas menurun, minat terhadap pekerjaan manual yang membutuhkan keterampilan justru meningkat.

Profesi seperti tukang listrik, tukang ledeng, dan teknisi kini mendapatkan sorotan positif di media sosial, dengan potensi penghasilan yang menggiurkan.

Sebagai perbandingan, orang dengan gelar sarjana seni dan humaniora memiliki pendapatan rata-rata sebesar $69.000.

Sebaliknya, gaji tahunan rata-rata teknisi lift di Amerika mencapai $106.580. Bahkan, 10% teratas dari teknisi listrik menghasilkan lebih dari $100.000 per tahun.

CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa pusat data untuk AI akan membutuhkan ratusan ribu teknisi listrik, tukang ledeng, dan tukang kayu.

Hal ini menunjukkan tingginya permintaan pekerja terampil di sektor manufaktur canggih.

Stigma dan Solusi Sistem Pendidikan

Meskipun peluang terbuka lebar, stigma sosial masih menjadi penghambat. Sujai Shivakumar dari Centre for Strategic and International Studies menyoroti pandangan orang tua terhadap pekerjaan teknis.

“Banyak orang tua melihatnya sebagai kotor, gelap, dan berbahaya dan jalan buntu. Kurangnya koordinasi antara sekolah, industri, dan pemerintah juga merupakan masalah,” kata Sujai Shivakumar.

Para ahli menyarankan adopsi sistem pendidikan vokasi yang lebih fleksibel. Ursula Renold, ahli pendidikan kejuruan di ETH Zurich, menyarankan dunia meniru model pendidikan di Swiss.