Review Film Avatar Fire and Ash: Visual Luar Biasa untuk Cerita yang Terlalu Biasa

"varang-fire-and-ash-review"
Varang, pemimpin klan Ash People yang diperankan oleh Oona Chaplin dalam film terbaru James Cameron, Avatar: Fire and Ash. (Dok. IMDB)
  • Performa yang Kuat: Chaplin membawa fisik yang liar dan energi dewasa yang belum pernah ada sebelumnya di planet Pandora yang biasanya terlihat “suci”.

  • Dinamika dengan Quaritch: Varang menjalin hubungan psikologis yang intens dengan Quaritch (Stephen Lang), yang kini berada dalam tubuh Na’vi.

  • Memecah Binari: Kehadiran Varang merusak batasan sederhana antara penjajah manusia yang rakus dan penduduk asli Pandora yang cinta damai, menjadikannya sesuatu yang lebih menarik bagi penonton dewasa.

Baca Juga: Film Avatar: Fire and Ash Dapat Ulasan Rendah

Kembali ke Formula Lama

Terlepas dari awal yang menjanjikan, Burns menyayangkan keputusan film ini untuk “meninggalkan” karakter Varang di tengah cerita. Fokus narasi kemudian kembali ke keluarga Sully yang menggalang flora dan fauna untuk melawan pasukan manusia.

  • Pengulangan Cerita: Film ini dianggap kembali menjadi pengulangan dari dua film sebelumnya, kali ini lengkap dengan paus yang berkomunikasi secara psikis.

  • Referensi Mandiri: James Cameron menggunakan kembali elemen aksi dari film-film populernya terdahulu seperti Titanic, True Lies, dan Terminator 2 ke dalam pemandangan buatan Pandora.

  • Kritik Visual: Burns mencatat bahwa penggunaan high frame rate membuat pemandangan Pandora terlihat seperti layar demonstrasi TV di toko elektronik.

Teknologi vs Kedalaman Drama

Burns juga menyinggung dokumenter di Disney+ berjudul Fire and Water: Making the Avatar Films yang menunjukkan kerja keras para aktor di dalam tangki air raksasa.

Meskipun kagum dengan upaya teknis tersebut, Burns mempertanyakan apakah semua kerumitan itu sepadan dengan hasil performa yang ditampilkan di layar.

Ulasan ini ditutup dengan kesimpulan bahwa bagi sebagian besar penonton dunia, mengunjungi Pandora adalah pengalaman ajaib, namun bagi Burns, film ini tetaplah sebuah pengulangan yang belum mampu memberikan kepuasan dramatis yang baru.

(*Red)