Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi orang Indonesia, tidak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan menyantap nasi putih yang baru matang, masih mengepul panas, dan beraroma harum.
Nasi yang hangat dan pulen seolah menjadi “jodoh” sempurna bagi segala jenis lauk pauk.
Namun, belakangan ini ramai beredar informasi bahwa mengonsumsi nasi dingin atau nasi sisa semalam (yesterday’s rice) justru lebih sehat dibandingkan nasi panas.
Terutama bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan atau penderita diabetes.
Baca Juga: 8 Sayuran Kaya Vitamin C Peningkat Imun Tubuh: Dari Paprika Merah hingga Kale di Musim Hujan
Benarkah demikian? Apakah nasi panas menyimpan “bahaya” tersembunyi bagi kesehatan? Berikut adalah fakta medis mengenai perbedaan dampak nasi panas dan nasi dingin bagi tubuh.
1. Kandungan Gula dan Indeks Glikemik
Perbedaan utama antara nasi panas dan dingin terletak pada struktur patinya.
Nasi panas memiliki struktur pati yang mudah dicerna oleh tubuh.
Akibatnya, karbohidrat di dalamnya lebih cepat diubah menjadi glukosa (gula), yang memicu lonjakan kadar gula darah secara cepat. Ini berarti nasi panas memiliki Indeks Glikemik (IG) yang tinggi.
Sebaliknya, saat nasi didinginkan, terjadi proses kimia yang disebut retrogradasi. Pati di dalam nasi berubah menjadi pati resisten.
Pati jenis ini tidak bisa dicerna sepenuhnya di usus halus, sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang drastis.
2. Manfaat untuk Penderita Diabetes
Karena kandungan pati resistennya yang lebih tinggi, nasi dingin dianggap lebih aman bagi penderita diabetes atau pre-diabetes.
Mengonsumsi nasi yang sudah didinginkan (suhu ruang atau dari kulkas) dapat membantu menjaga kestabilan gula darah dibandingkan nasi yang baru matang.
3. Kandungan Kalori
Pati resisten pada nasi dingin memiliki sifat mirip serat pangan.
















