Mengapa Kita Harus Merayakan 16 HAKTP? Ini Alasannya

Ilustrasi - 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
Ilustrasi - 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Baca Juga: Aksi Aliansi Perempuan Indonesia di Depan Gedung DPR RI, Tuntut Prabowo Hentikan Kekerasan

  • Korban Butuh Suara dan Kita Perlu mendengarkan

Banyak pengalaman perempuan kerap terpinggirkan dan tidak memperoleh ruang aman untuk disampaikan. Momentum ini mendorong masyarakat untuk mendengarkan dan memvalidasi pengalaman mereka. Kesadaran publik merupakan langkah awal yang penting untuk memutus siklus kekerasan.

  • Mendorong Perubahan Kebijakan dan Sistem

16 HAKTP mengingatkan bahwa perubahan sistemik membutuhkan tekanan dan dukungan publik secara konsisten. Fungsinya adalah sebagai penggerak agar memperkuat upaya advokasi, termasuk perbaikan regulasi, peningkatan layanan pendampingan, serta akuntabilitas institusi dalam menangani kasus kekerasan.

  • Penguatan Edukasi dan Pencegahan

Minimnya pengetahuan mengenai bentuk kekerasan, mekanisme pelaporan, dan layanan pendampingan membuat banyak korban tidak mengetahui haknya. Momen perayaan ini berperan besar dalam meningkatkan literasi masyarakat mengenai isu kekerasan berbasis gender.

  • Membangun Solidaritas Komunitas

Peringatan 16 HAKTP menunjukkan bahwa korban tidak berdiri sendiri. Solidaritas masyarakat membantu mengurangi stigma dan meningkatkan keberanian korban untuk mencari pertolongan. Dukungan kolektif menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan.

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Tontonan: 4 Film Wajib untuk Memahami Kampanye 16 HAKTP

  • Bagian dari Gerakan Global

Dirayakan di lebih dari 180 negara sejak 1991, perayaan ini menghubungkan berbagai komunitas lokal dengan perjuangan global untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan. Partisipasi masyarakat menegaskan bahwa isu kekerasan adalah persoalan bersama yang melampaui batas geografis.

  • Merawat Ingatan dan Menolak Normalisasi Kekerasan

Dengan memperingati 16 HAKTP setiap tahun, masyarakat diajak untuk tidak mengabaikan atau menormalisasi kekerasan terhadap perempuan. Merawat ingatan bersama menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa perjuangan ini terus berlanjut.

(*Sari)

Penulis: Apsari