“Diplomasi akan berhasil jika situasi memberikan ruang untuk diplomasi. Saya menyesal harus mengatakan bahwa saat ini kita tidak memiliki ruang itu,” ujar Sihasak kepada Al Jazeera.
Thailand menuding Kamboja bermuka dua; menyatakan siap damai di satu sisi, namun terus melakukan provokasi militer di lapangan.
Bangkok menuntut “komitmen nyata” dari Phnom Penh sebelum bersedia kembali ke meja perundingan.
Konflik ini mencederai kesepakatan damai yang ditandatangani pada Oktober lalu, yang melibatkan mediasi Malaysia dan Amerika Serikat.
Kesepakatan tersebut mencakup demiliterisasi perbatasan, pembersihan ranjau, dan penghentian perang informasi.
Namun, insiden ledakan ranjau yang melukai tentara Thailand bulan lalu menjadi pemicu retaknya kepercayaan kedua negara.
Hingga kini, nasib 18 tentara Kamboja yang ditahan Thailand sejak Juli masih terkatung-katung, menjadi sandera politik di tengah konflik yang kian memanas.
(ra)
















