Kenapa Jadi “Sumbu Pendek” Saat Lapar, Gerah, dan Ngantuk? Ini 5 Alasan Ilmiahnya

"Sering marah saat lapar, gerah, atau mengantuk? Ternyata ada alasan ilmiahnya! Simak 5 fakta biologis penyebab "sumbu pendek" dan cara mengatasinya."
Sering marah saat lapar, gerah, atau mengantuk? Ternyata ada alasan ilmiahnya! Simak 5 fakta biologis penyebab "sumbu pendek" dan cara mengatasinya. (Dok. Ist)

3. Putusnya Koneksi “Rem” Emosi di Otak

Kurang tidur memiliki efek yang menakutkan bagi otak.

Sebuah studi dari UC Berkeley menunjukkan bahwa saat manusia kurang tidur, koneksi antara Amigdala (pusat emosi dan rasa takut) dan Prefrontal Cortex (pusat logika) menjadi terganggu.

Ibarat mobil, Amigdala adalah pedal gas emosi, sedangkan Prefrontal Cortex adalah remnya. Saat mengantuk, rem ini menjadi blong.

Amigdala menjadi 60% lebih reaktif terhadap stimulus negatif.

Inilah mengapa saat mengantuk, kita mudah sekali tersinggung atau menangis tanpa alasan yang jelas.

4. Heat Stress Menguras Energi Mental

Mengapa cuaca panas (gerah) bikin emosi?

Saat suhu tubuh meningkat, tubuh bekerja ekstra keras untuk mendinginkan diri melalui keringat dan pelebaran pembuluh darah.

Proses ini menghabiskan banyak energi dan menyebabkan ketidaknyamanan fisik yang intens.

Kondisi ini disebut heat stress. Detak jantung yang meningkat saat kepanasan meniru respons fisiologis saat kita sedang marah.

Otak sering kali salah menafsirkan sinyal fisik ini (jantung berdebar dan keringat) sebagai tanda agresi, sehingga membuat kita lebih condong untuk merespons situasi dengan kemarahan daripada kesabaran.

5. Senyawa Kimia Neuropeptida Y

Khusus untuk rasa lapar, ada “pemain” unik bernama Neuropeptida Y.

Ini adalah zat kimia alami di otak yang dilepaskan saat tubuh butuh makan.

Uniknya, Neuropeptida Y tidak hanya berfungsi mengatur rasa lapar, tetapi juga mengatur rasa amarah dan agresi. Reseptor untuk zat ini tersebar di berbagai bagian otak.

Jadi, tingginya keinginan untuk makan sering kali berjalan beriringan dengan tingginya dorongan agresivitas secara biologis.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Mengetahui bahwa ini adalah reaksi biologis, bukan berarti kita bebas memarahi orang lain.

Berikut cara cepat “menjinakkan” diri:

  1. Kenali Tandanya: Jika Anda merasa kesal tanpa sebab yang berat, tanyakan pada diri sendiri: “Kapan terakhir saya makan? Atau tidur?”

  2. Makan Cepat: Konsumsi makanan yang mengandung glukosa atau karbohidrat kompleks untuk menaikkan gula darah dengan stabil.
  3. Minum Air Dingin: Jika gerah, hidrasi adalah kunci. Air dingin membantu menurunkan suhu internal tubuh.
  4. Tarik Napas: Sebelum merespons orang lain, tarik napas 10 detik. Ini memberi waktu bagi Lobus Frontal untuk mengambil alih kendali dari Amigdala.

Tubuh kita adalah mesin yang kompleks. Merawat kebutuhan dasarnya (makan, tidur, kenyamanan) adalah langkah pertama untuk menjaga kesehatan mental dan hubungan baik dengan orang lain.

Baca Juga: Mudah Marah Menjelang Haid? Ini 4 Cara Sederhana Mengelola Emosi Agar Tetap Tenang

(*Mira)