Kenapa Jadi “Sumbu Pendek” Saat Lapar, Gerah, dan Ngantuk? Ini 5 Alasan Ilmiahnya

"Sering marah saat lapar, gerah, atau mengantuk? Ternyata ada alasan ilmiahnya! Simak 5 fakta biologis penyebab "sumbu pendek" dan cara mengatasinya."
Sering marah saat lapar, gerah, atau mengantuk? Ternyata ada alasan ilmiahnya! Simak 5 fakta biologis penyebab "sumbu pendek" dan cara mengatasinya. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda merasa menjadi orang yang sangat menyebalkan hanya karena telat makan siang?

Atau mungkin Anda pernah membentak pasangan hanya karena ruangan terasa panas dan Anda kurang tidur semalam?

Jika jawabannya iya, jangan buru-buru melabeli diri Anda sebagai orang jahat atau pemarah. Fenomena ini sangat manusiawi.

Dalam istilah populer, kita sering mendengarnya sebagai hangry (gabungan hungry dan angry).

Baca Juga: Mengapa Gampang Marah Saat PMS? Ini 4 Jawaban Ilmiah di Balik Perubahan Mood Anda

Ternyata, ada penjelasan ilmiah mengapa kombinasi rasa lapar, suhu panas, dan kantuk bisa meruntuhkan pertahanan emosi seseorang.

Tubuh dan otak kita memiliki mekanisme unik yang menghubungkan ketidaknyamanan fisik langsung ke pusat kendali emosi.

Berikut adalah 5 alasan ilmiah mengapa kita jadi lebih sensitif dan mudah marah saat kondisi fisik tidak prima:

1. Otak Kehabisan “Bahan Bakar” Glukosa

Alasan utama kenapa kita emosi saat lapar adalah penurunan kadar gula darah (glukosa).

Glukosa adalah bahan bakar utama otak. Ketika kadarnya turun drastis, fungsi otak akan terganggu.

Bagian otak yang paling terdampak adalah Lobus Frontal (bagian depan).

Bagian ini bertugas mengendalikan impuls, menahan emosi, dan berpikir logis.

Saat “bensin”-nya habis, kemampuan otak untuk mengerem emosi ikut melemah.

Akibatnya, hal sepele yang biasanya bisa Anda maklumi tiba-tiba terasa sangat mengganggu.

2. Banjir Hormon Stres (Kortisol dan Adrenalin)

Saat Anda kelaparan atau kurang tidur, otak menganggap tubuh sedang dalam kondisi bahaya atau krisis energi.

Sebagai respons pertahanan diri, otak memerintahkan kelenjar tubuh untuk melepaskan hormon stres, yaitu kortisol dan adrenalin.

Kedua hormon ini biasanya keluar saat kita menghadapi ancaman (mode fight or flight).

Adrenalin membuat jantung berdegup kencang dan otot menegang. Dalam kondisi ini, ambang batas toleransi kita terhadap gangguan menjadi sangat rendah.

Sapaan teman yang biasa saja bisa terdengar seperti tantangan atau ejekan di telinga orang yang sedang dibanjiri adrenalin.