“Ia menunjukkan area yang diduga tambang emas yang mengunduli hutan,” tulis narasi dalam unggahan tersebut, memperlihatkan bukti visual deforestasi yang mengerikan.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran pola pengawasan masyarakat. Teknologi seperti citra satelit Google Earth kini bertransformasi menjadi senjata investigasi publik yang efektif untuk menantang narasi bahwa bencana ini murni akibat cuaca ekstrem.
Publik mempertanyakan kinerja pengawasan aparat dan pemerintah. Masyarakat menyayangkan mengapa kerusakan lingkungan yang begitu kasat mata dari satelit justru dibiarkan hingga akhirnya memicu bencana fatal yang merenggut banyak nyawa.
Baca Juga: Total Korban Tewas Bencana Sumatera Tembus 442 Jiwa, BNPB Kebut Distribusi Logistik dan Alat Berat
Sebagai informasi, dampak bencana hidrometeorologi di Sumatera kali ini terbilang sangat dahsyat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru yang memilukan.
Tercatat sedikitnya 604 orang meninggal dunia, puluhan orang masih dinyatakan hilang, dan puluhan ribu warga lainnya harus mengungsi di tenda-tenda darurat.
Selain korban jiwa, kerugian materiil akibat kerusakan infrastruktur dan rumah warga diperkirakan mencapai triliunan rupiah.
(*Red)
















