Salah satu fungsi vital hutan adalah sebagai paru-paru dunia yang menyerap karbon dioksida dan menyimpannya dalam biomassa (batang kayu) serta tanah (gambut).
Hutan hujan tropis, terutama hutan gambut, menyimpan cadangan karbon yang sangat besar yang telah tertimbun selama ribuan tahun.
Ketika hutan ditebang atau dibakar untuk membuka lahan sawit, seluruh karbon yang tersimpan itu terlepas ke atmosfer dan memperparah pemanasan global.
Meskipun pohon sawit juga melakukan fotosintesis, kemampuan mereka menyerap karbon jauh lebih kecil dibandingkan hutan alam yang padat.
Secara hitungan emisi, kebun sawit memiliki “utang karbon” yang butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk membayarnya kembali, itu pun tidak akan setara dengan hutan aslinya.
4. Pengaturan Iklim Mikro (Suhu Lingkungan)
Jika Anda masuk ke dalam hutan hujan, Anda akan merasakan udara yang sejuk dan lembap meskipun matahari bersinar terik.
Hal ini karena kanopi hutan yang berlapis-lapis dan rapat mampu menahan uap air dan memblokir sinar matahari langsung mencapai tanah.
Berbeda halnya dengan kebun sawit yang memiliki kanopi terbuka dan seragam.
Sinar matahari dapat menembus langsung ke lantai kebun, membuat suhu mikro di area perkebunan menjadi jauh lebih panas dan kering dibandingkan di dalam hutan.
Peningkatan suhu dan penurunan kelembapan ini tidak hanya membuat lingkungan tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran lahan, terutama di area yang berbatasan dengan lahan gambut kering.
5. Siklus Hara dan Kualitas Tanah
Hutan memiliki sistem daur ulang nutrisi yang mandiri dan sempurna.
Daun yang gugur dan batang yang busuk akan diurai oleh mikroorganisme menjadi humus yang menyuburkan tanah kembali tanpa perlu campur tangan manusia.
Sementara itu, kebun sawit adalah pertanian intensif yang menguras unsur hara tanah secara cepat untuk memacu produksi buah.
Untuk mempertahankan kesuburan, sawit sangat bergantung pada pupuk kimia dan pestisida buatan.
Penggunaan bahan kimia ini dalam jangka panjang dapat mematikan mikroorganisme alami tanah, mengeraskan tekstur tanah, dan residunya dapat terbawa air hujan hingga mencemari sungai-sungai di sekitarnya, merusak ekosistem perairan.
Kelapa sawit memang komoditas ekonomi yang penting, namun kita harus berhenti menyamakannya dengan hutan.
Mengakui bahwa sawit tidak bisa menggantikan fungsi ekologis hutan adalah langkah awal untuk merancang kebijakan tata kelola lahan yang lebih bijak, demi menjaga keseimbangan alam yang tersisa.
Baca Juga: Respons Bahlil Soal Isu Tambang Ilegal Jadi Biang Kerok Banjir Bandang Sumatera
(*Mira)
















