Opini  

AI dan Kerumunan

Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi. (Dok. HOFaktakalbar.id)
Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi. (Dok. HOFaktakalbar.id)

OPINI – NOISE. Ribut dan riuh di kerumunan (crowd). Semua orang memegang pengeras suara. Semua orang didengar dan mendengar.

Melihat dan dilihat. Begitulah Internet Platform yang menghubungkan data dan informasi dari berbagai perangkat (devices) membuka akses ke semua orang untuk mencari, memproses, dan mendistribusikan informasi.

Baca Juga: Hadiri Wisuda UPB ke-37, Wamendiktisaintek Stella Christie Tekankan Pentingnya Keterampilan Nonteknis di Era Kecerdasan Artifisial

Incentive system-nya advertising. Kiblatnya advertiser, pemasang iklan. Makin murah unit cost (misalnya, biaya per impression), makin bagus.

Agar makin murah, Internet Platform mendorong semua orang untuk berproduksi, memproduksi informasi.

Cara kerjanya: attention. Siapa yang mendapatkan perhatian terbanyak, ya, dia terbaik. User engagement (klik, share, comment) jadi metrics utama.

Sistem mendorong engagement. Artinya, makin riuh makin bagus. Siapa yang riuh, dia akan dapat iklan lebih banyak. Meng-capture market lebih bagus.

Sistem ini yang dimulai 1998 dengan Google dan 2004 dengan Facebook memunculkan banyak hal bagus: democratize. Semua orang bisa menjadi kreator, influencer, tokoh, artis, pedagang.

Semua orang bisa mengontrol apa yang ingin dia baca, apa yang dia ingin lupakan. Kontrol berpindah dari segelintir orang, segelintir institusi. Kontrol berpindah ke individu, ke semua orang.

Internet Platform mengubah pondasi lebih dalam lagi. Democratize tidak hanya di sisi produksi, tapi juga di sisi bisnis.

Dengan pengeras suara di tangannya, semua orang bisa berdagang: berdagang citra (reputasi), berdagang kue, berdagang jasa (misalnya, menjadi tukang ojek online).

Bermunculan infrastruktur baru: server (tempat penyimpanan data, cloud), alat pembayaran online, security, dan seterusnya.

Pedagang online bermunculan, membuat asosiasi. Media baru bermunculan, berkumpul dalam asosiasi. Di industri pers, misalnya, muncul 50 ribuan media baru sesuatu yang mustahil sebelum Internet Platform bisa diakses publik.

Tapi, ada biayanya. Mahal sekali. Misinformasi, disinformasi, opini publik, demokrasi, tertib sosial. Media dan bisnis tradisional tumbang, PHK di mana-mana.

Lembaga-lembaga sosial lama, bahkan institusi keagamaan, mendapatkan tantangan baru. Ada yang pergi, ada yang datang. Ada yang tumbang, muncul yang baru.

Baca Juga: Perplexity AI: Mesin Pencari Cerdas Alternatif Google, Dapat Jawaban Langsung dan Bisa Cek Sumbernya

AI System

Kita sedang mengarungi dunia baru, dunia yang diciptakan oleh Internet Platform, ketika teknologi AI bisa diakses publik melalui ChatGPT, November 2022.

AI System adalah power, kekuatan, yang karakternya berbeda. Meski sama-sama enable karena internet, AI berbeda: incentive system dan cara kerja. Karena itu, dampaknya juga akan berbeda.

AI atau Artificial Intelligence adalah sistem, sama dengan Internet Platform. Bedanya: sistem ini diberi tugas menjalankan pekerjaan manusia (to perform human tasks).

Agar bisa menjalankan fungsi itu, sistem itu diberi kemampuan berpikir seperti manusia. Dia memiliki kemampuan kecerdasan seperti manusia.

AI dilatih, pre-trained. AI tidak diprogram (pre-programmed) seperti Internet Platform. Karena dia dilatih, AI memiliki kemampuan self improvement. Artinya, kalau AI dilatih berjalan, dia akan berjalan.

Tapi lebih dari itu, dia bisa berjalan cepat, kemudian berlari dan bisa sambil menyanyi. Dia bisa menjadi otonom.

AI, seperti manusia, bisa mengenali teks (jadi, dia bisa tahu, ooo “ini kota” atau “ini nama orang”). AI juga bisa memahami gambar (images), suara, dan suara gambar (audio-visual).

Informasi yang masuk ke “pancaindra” AI itu diolah, dibuat polanya, dan dibuat prediksinya (prediksi inilah jawaban yang di-trigger oleh prompt).

Jadi, mesin AI, yang dilatih berjalan, bisa sambil berjalan, melihat, mengenali, memproses informasi dan menghasilkan informasi baru. Dia entitas, yang seperti manusia, memiliki kemampuan mencari, mengolah, dan mendistribusikan informasi baru.

AI bisa membuat keputusan sendiri, menghasilkan keputusan yang sebelumnya tidak diprogram. Internet Platform, sementara itu, hanya retrieve, menarik informasi yang sudah tersedia di jaringan internet.

Hasil Google Search, misalnya: hanya mencari informasi yang sudah ada. Google Search tidak membuat kalimat sendiri. Dia tidak bisa berpikir sendiri, membuat keputusan sendiri.

Google Search, dengan demikian, hanya melayani manusia. Dia tidak bersaing dengan manusia.

Jadi, ketika kita berbicara tentang AI, penting dipahami: Kita sedang membicarakan satu entitas yang memiliki kecerdasan, yang kecerdasan bisa self improve, yang bisa mengalahkan kecerdasan manusia (karena dia tidak tidur, dia bekerja 24 jam, dan karena dia bekerja dengan belajar dari seluruh data dan informasi yang publicly accessible).

AI belajar (learning), kemudian memiliki kemampuan bernalar (reasoning) dan membuat keputusan (make a decision) dari data dan informasi yang bisa diakses secara publik: website, buku (bayangkan tentang buku serius karya Einstein, sastra seperti karya Shakespeare), hasil penelitian, lukisan (misalnya, lukisan Monalisa), video, bahkan laporan keuangan dalam bentuk Excel.

Yang ingin dikatakan adalah AI tidak hanya mengelola informasi di website berita. Sumber “bacaannya” lebih kaya, lebih luas, lebih dalam dibandingkan dengan Internet Platform yang hanya mengandalkan website.

AI tidak dalam kerumunan seperti Internet Platform. Dia tidak suka crowd, noise, keributan. Dia tenang, sistematis, logik, serius, terpola. AI ini seperti seorang profesor di ruang konferensi.

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id