Penemuan ini mengejutkan warga setempat. Muhammad Yunus, salah seorang warga Desa Meunasah Lhok, mengaku fenomena ini baru pertama kali terjadi.
“Di desa ini tidak ada gajah, warga belum pernah lihat gajah karena biasanya gajah ada di hutan. Baru sekarang ini kami lihat gajah mati karena banjir,” ungkap Yunus.
Akses menuju lokasi penemuan cukup sulit, membutuhkan waktu hampir dua jam berjalan kaki karena jalan utama terputus akibat luapan Sungai Meureudu.
Warga pun tidak memiliki peralatan memadai untuk mengevakuasi bangkai gajah yang mulai mengeluarkan bau tidak sedap tersebut.
Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, merespons temuan ini dengan prihatin. Pihaknya juga menyoroti banyaknya kayu hutan berukuran besar yang hanyut bersama banjir. Ia menegaskan akan segera menurunkan tim untuk menginvestigasi kondisi hutan di wilayah hulu.
“Sampai hari ini saya belum tahu kondisi di gunung bagaimana. Apakah kayu-kayu ini akibat penebangan (ilegal) atau apa, kami belum tahu. Insyaallah setelah ini kita akan cek kondisi hutan,” tegas Hasan.
Baca Juga: BNPB: Korban Bencana di Sumatera Terus Bertambah, 174 Meninggal dan 79 Masih Hilang
(*Mira)
Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id
















