Faktakalbar.id, NASIONAL – Rangkaian bencana hidrometeorologi yang menerjang Sumatera Utara menyisakan kepedihan mendalam.
Hingga kini, tercatat 34 warga meninggal dunia dan 52 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Di balik angka korban jiwa yang terus bertambah, bencana ini menyalakan “alarm bahaya” mengenai kondisi hutan yang kian kritis di wilayah hulu.
Berdasarkan data pemutakhiran Polda Sumatera Utara, banjir bandang dan tanah longsor telah meluas ke 12 kabupaten/kota.
Baca Juga: Empat Kabupaten di Sumut Dilanda Banjir dan Longsor, 8 Warga Meninggal Dunia
Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi wilayah dengan dampak kemanusiaan terberat, mencatat 17 korban gugur, disusul Kota Sibolga dengan 8 korban jiwa.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, merinci bahwa total kejadian bencana mencapai 148 kasus.
“Didominasi tanah longsor sebanyak 86 kejadian dan banjir 53 kejadian,” jelasnya.
Pesan dari Alam yang Rusak
Tingginya fatalitas dalam bencana ini memicu sorotan tajam dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara.
Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Rianda Purba, menilai peristiwa ini tidak bisa semata-mata dilihat sebagai “amukan cuaca” akibat siklon tropis, melainkan konsekuensi dari degradasi lingkungan yang kronis.
Indikasi ini terlihat jelas dari material yang dihanyutkan air.
Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id
















