Waspada! 6 Kesalahan Pola Asuh Ini Bikin Anak Tumbuh Jadi Sosok yang Merasa Selalu Benar

"Berniat menumbuhkan kepercayaan diri, orang tua justru sering terjebak membesarkan anak yang narsistik dan anti-kritik. Simak 6 kesalahan pola asuh fatal yang membuat anak merasa selalu benar."
Berniat menumbuhkan kepercayaan diri, orang tua justru sering terjebak membesarkan anak yang narsistik dan anti-kritik. Simak 6 kesalahan pola asuh fatal yang membuat anak merasa selalu benar. (Dok. Ist)

Akhirnya, ia akan berdebat mati-matian bahwa dirinya benar demi mempertahankan label “si jenius” tersebut.

Sebaiknya, pujilah prosesnya: “Ayah bangga kamu sudah bekerja keras memecahkan soal itu.”

4. Orang Tua Tidak Pernah Memberi Contoh Meminta Maaf

Anak adalah peniru ulung.

Jika Anda sebagai orang tua melakukan kesalahan (misalnya membentak anak atau lupa janji) namun gengsi untuk meminta maaf, anak akan merekam perilaku tersebut.

Mereka akan belajar bahwa meminta maaf adalah tanda kelemahan.

Sebaliknya, orang tua yang berani berkata, “Maaf ya Nak, Ibu tadi salah bicara karena emosi,” mengajarkan anak bahwa mengakui kesalahan adalah tindakan ksatria dan manusiawi.

5. Tidak Mengajarkan Sudut Pandang Orang Lain (Empati)

Anak-anak secara alami bersifat egosentris (berpusat pada diri sendiri).

Tugas orang tua adalah melatih otot empatinya.

Kesalahan terjadi ketika orang tua selalu memvalidasi perasaan anak tanpa mengajak mereka melihat sisi lain.

Saat anak bertengkar, ajukan pertanyaan reflektif: “Menurutmu, apa yang dirasakan temanmu saat kamu merebut mainannya?”

Tanpa latihan ini, anak akan tumbuh meyakini bahwa perasaannya adalah satu-satunya kebenaran mutlak.

6. Takut Berkata “Tidak” (Pola Asuh Permisif)

Ingin menjadi sahabat bagi anak boleh saja, tapi jangan sampai menghilangkan otoritas Anda sebagai orang tua.

Pola asuh permisif yang selalu menuruti keinginan anak karena takut anak tantrum atau kecewa, akan melahirkan mentalitas entitlement (merasa berhak).

Anak yang tidak pernah mendengar kata “Tidak” akan merasa bahwa segala keinginannya adalah titah yang harus dituruti.

Ketika dunia nyata menolaknya, ia akan menganggap dunia yang salah, bukan dirinya.

Membesarkan anak yang rendah hati dan berjiwa besar memang tantangan berat di era modern ini.

Namun, dengan berhenti melakukan 6 kesalahan di atas, Anda sedang menyelamatkan masa depan anak Anda agar bisa diterima dengan baik di masyarakat dan memiliki hubungan sosial yang sehat.

Baca Juga: Lagi Burnout Berat? 4 Cemilan Ini Bisa Bantu Perbaiki Mood Kamu Seketika

(*Mira)