Faktakalbar.id, KETAPANG – Pemandangan kontras terlihat di kawasan Jalan KH Mansyur dan KH Wahid Hasyim, tepatnya di sekeliling Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang.
Tumpukan lumpur hitam pekat yang “menggunung” di sisi jalan menjadi saksi bisu betapa tebalnya sedimentasi yang selama ini menyumbat aliran air di pusat kota, Senin (24/11/25).
Alat berat milik Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Ketapang tampak sibuk membedah “nadi” drainase kawasan tersebut.
Normalisasi ini dilakukan sebagai respons atas keluhan genangan air yang kerap melanda area vital tersebut setiap kali hujan lebat mengguyur.
Langkah ini diambil untuk memperlancar konektivitas aliran air menuju pembuangan akhir di Sungai Pawan.
Namun, kegiatan ini justru menyingkap fakta lain di lapangan. Banyaknya volume endapan lumpur yang berhasil diangkat menjadi indikator kuat bahwa perawatan drainase di titik vital ini jarang dilakukan secara berkala.
Baca Juga: Sisir Kafe dan Tempat Nongkrong, Polres Ketapang Gelar Razia Knalpot Brong
Kawasan sekitar Masjid Al-Ikhlas merupakan salah satu wajah kota Ketapang.
Jika normalisasi hanya dilakukan secara insidental saat musim hujan tiba atau saat sumbatan sudah parah, ancaman banjir akan terus menghantui.
Masyarakat berharap Dinas PUTR tidak hanya bekerja reaktif, melainkan memiliki jadwal pemeliharaan rutin (preventif).
Dengan demikian, drainase tidak perlu menunggu “sekarat” tertimbun sedimentasi baru mendapatkan penanganan alat berat.
(ra)
Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id
















