Buka Mata, Buka Hati: 5 Buku Wajib Baca Selama Kampanye 16 HAKTP

"Peringati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) dengan literasi. Simak 5 rekomendasi buku yang membuka mata tentang realitas kekerasan berbasis gender dan perjuangan perempuan."
Peringati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) dengan literasi. Simak 5 rekomendasi buku yang membuka mata tentang realitas kekerasan berbasis gender dan perjuangan perempuan. (Dok. Ist)

3. Perempuan di Titik Nol (Woman at Point Zero) – Nawal El Saadawi

Ini adalah karya klasik feminisme dari penulis asal Mesir, Nawal El Saadawi.

Novel ini didasarkan pada kisah nyata seorang narapidana wanita yang menunggu hukuman mati.

Melalui tokoh Firdaus, kita diajak menyelami kehidupan perempuan yang dikelilingi oleh kekerasan, pelacuran, dan kemunafikan laki-laki dalam masyarakat patriarki yang ekstrem.

Buku ini keras, jujur, dan menampar pembacanya tentang betapa mahalnya harga sebuah kebebasan bagi seorang perempuan.

4. Know My Name – Chanel Miller

Jika Anda ingin memahami perspektif korban kekerasan seksual secara mendalam, memoar ini adalah jawabannya.

Chanel Miller adalah penyintas kasus pemerkosaan Stanford yang sempat viral sebagai “Emily Doe”.

Di buku ini, ia “merebut kembali” namanya dan narasi hidupnya.

Ia menceritakan trauma pasca-kejadian, kejamnya proses pengadilan yang justru menyudutkan korban (victim blaming), dan proses penyembuhan yang panjang.

Buku ini adalah bukti ketangguhan seorang penyintas dalam mencari keadilan.

5. Cantik Itu Luka – Eka Kurniawan

Novel epik Indonesia ini menggabungkan sejarah, mitos, dan realitas brutal.

Melalui tokoh Dewi Ayu, seorang pelacur yang bangkit dari kubur, Eka Kurniawan memotret sejarah kolonialisme dan kekerasan yang dialami perempuan Indonesia dari masa ke masa.

Judulnya sendiri sudah menyiratkan pesan kuat: bagaimana kecantikan perempuan sering kali bukan menjadi anugerah, melainkan kutukan yang mengundang nafsu, kekerasan, dan eksploitasi.

Sebuah refleksi mendalam tentang posisi tubuh perempuan dalam sejarah bangsa.

Membaca buku-buku di atas mungkin akan terasa tidak nyaman, menyesakkan, atau memancing amarah.

Namun, perasaan itulah yang kita butuhkan untuk memantik empati.

Di momen 16 HAKTP ini, mari kita mulai dengan membaca, memahami, lalu bergerak bersama untuk menciptakan ruang aman bagi semua perempuan.

Selamat membaca dan selamat berjuang!

Baca Juga: 5 Rekomendasi Buku Terbaik untuk Mulai Memahami Feminisme (Novel dan Non-Fiksi)

(*Mira)

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id