Buka Mata, Buka Hati: 5 Buku Wajib Baca Selama Kampanye 16 HAKTP

"Peringati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) dengan literasi. Simak 5 rekomendasi buku yang membuka mata tentang realitas kekerasan berbasis gender dan perjuangan perempuan."
Peringati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) dengan literasi. Simak 5 rekomendasi buku yang membuka mata tentang realitas kekerasan berbasis gender dan perjuangan perempuan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) atau 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence adalah momen global yang diperingati setiap tanggal 25 November hingga 10 Desember.

Ini bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan untuk melawan segala bentuk kekerasan pada perempuan.

Salah satu cara paling ampuh untuk memahami isu ini adalah lewat literatur.

Buku memiliki kekuatan magis untuk menempatkan kita di “sepatu” orang lain, merasakan ketakutan, kemarahan, dan keberanian para penyintas.

Baca Juga: 5 Istilah yang Wajib Diketahui Para Pencinta Buku, dari TBR hingga DNF

Untuk menemani masa kampanye ini, berikut adalah 5 buku wajib baca yang akan membuka mata dan hati Anda terhadap realitas perempuan di berbagai belahan dunia.

1. Kim Ji-young, Born 1982 – Cho Nam-joo

Novel asal Korea Selatan ini menjadi fenomena global karena mengangkat isu yang sangat dekat dengan keseharian: sexisme yang menormalisasi diskriminasi.

Buku ini menceritakan kehidupan Kim Ji-young yang perlahan mengalami gangguan mental akibat tekanan patriarki yang “halus” namun mencekik.

Mulai dari perlakuan beda di rumah, pelecehan di sekolah, hingga diskriminasi di tempat kerja.

Membaca ini menyadarkan kita bahwa kekerasan tidak melulu fisik, tapi juga bisa berupa tekanan sistemik yang mematikan karakter perempuan.

2. Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam – Dian Purnomo

Dari dalam negeri, novel ini menyoroti tradisi kawin tangkap di Sumba yang sering kali merugikan perempuan.

Dian Purnomo menuliskan kisah magi, seorang perempuan yang bercita-cita tinggi namun menjadi korban penculikan atas nama adat untuk dinikahi paksa.

Buku ini sangat penting dibaca di momen HAKTP karena memperlihatkan bagaimana budaya terkadang dijadikan tameng untuk melanggengkan kekerasan seksual dan perampasan hak asasi perempuan.

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id