Demi “stabilitas nasional”, Soeharto memerintah dengan tangan besi.
Demokrasi dibungkam. Pemilu yang digelar secara reguler hanyalah formalitas untuk melanggengkan kekuasaan Golkar sebagai mesin politik negara.
Kebebasan pers dan kebebasan berpendapat diberangus.
Media massa yang berani kritis, seperti Majalah Tempo, Editor, dan Tabloid Detik, dibredel (ditutup paksa).
Aktivitas politik mahasiswa diawasi ketat melalui NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan), dan siapa pun yang menentang pemerintah akan dicap sebagai “subversif”.
4. Rentetan Kekerasan Negara dan Pelanggaran HAM Berat
Selama 32 tahun, kekerasan digunakan sebagai alat untuk menjaga stabilitas.
Sejarah mencatat rentetan pelanggaran HAM berat yang terjadi di bawah komandonya:
- Penembakan Misterius (Petrus) 1980-an: Operasi rahasia untuk membunuh preman dan gali tanpa pengadilan.
- Peristiwa Tanjung Priok (1984): Penembakan terhadap demonstran Muslim.
- DOM di Aceh dan Papua: Penetapan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dan Papua melegalkan ribuan kasus kekerasan, penyiksaan, dan penghilangan paksa oleh aparat.
- Invasi Timor Leste (1975): Pendudukan militer di Timor Leste (kini Timor-Leste) memakan korban jiwa sipil yang sangat besar.
5. Penculikan Aktivis dan Tragedi Kemanusiaan 1998
Kekuasaan Soeharto berakhir tragis.
Menjelang kejatuhannya pada Mei 1998, terjadi gelombang penculikan terhadap para aktivis pro-demokrasi oleh tim militer.
Sebanyak 13 aktivis masih hilang hingga hari ini.
Puncaknya adalah Tragedi Trisakti (penembakan mahasiswa), yang memicu Kerusuhan Mei 1998.
Kerusuhan ini diwarnai penjarahan, pembakaran, dan kekerasan seksual sistematis yang menargetkan etnis Tionghoa.
Rezim Soeharto runtuh di atas puing-puing tragedi kemanusiaan.
Kesimpulan
Bagi mereka yang “Menolak Lupa”, pembangunan infrastruktur dan stabilitas semu yang dicapai di era Orde Baru tidak dapat menghapus catatan sejarah kelam tersebut.
Memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto sama dengan meniadakan penderitaan para korban dan melegitimasi bahwa tujuan menghalalkan segala cara.
Baca Juga:
















