Namun, muncul pertanyaan besar: seberapa akurat hasil pengukuran tersebut? Apakah data yang dihasilkan benar-benar dapat diandalkan layaknya alat medis?
Cara Kerja Sensor Pelacak Tidur Smartwatch
Dirangkum dari laman Cleveland Clinic dan National Sleep Foundation (Senin, 20/10/2025), perangkat populer seperti Apple Watch, Samsung Galaxy Watch, Fitbit, dan Garmin menggunakan sensor untuk memperkirakan aktivitas tubuh.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Digital Sebelum Tidur yang Bikin Susah Istirahat, Hindari Scrolling Media Sosial
Mengutip Dr. Brian Chen, spesialis kedokteran tidur dari Cleveland Clinic, fitur sleep tracking tidak secara langsung mengukur tidur, tetapi memperkirakan aktivitas melalui serangkaian sensor. Inilah Cara Kerja Sleep Tracking Smartwatch:
- Akselerometer: Mendeteksi gerakan tubuh. Jika tubuh tidak bergerak dalam jangka waktu tertentu, perangkat menganggap pengguna sedang tidur.
- Sensor PPG (Photoplethysmography): Memantau detak jantung dan variasinya selama tidur.
- Sensor SpO2 (Oksigen Darah): Digunakan untuk melihat kestabilan pernapasan.
- Sensor Suhu dan Mikrofon: Membantu mendeteksi perubahan suhu tubuh atau suara seperti dengkuran.
Dari kombinasi data tersebut, algoritma perangkat akan memperkirakan waktu mulai tidur, lama tidur, frekuensi terbangun, hingga tahap-tahap tidur seperti light sleep, deep sleep, dan REM.
Akurasi Pelacak Tidur Smartwatch: Batasan Medis
Masih merangkum laman Cleveland Clinic, pelacak tidur pada smartwatch paling akurat dalam membedakan antara kondisi terjaga dan tertidur.
Baca Juga: Lenovo Rilis Kacamata Pintar AI Glasses V1: Fitur Real-Time Translate dan Teleprompter
Namun, perangkat ini belum sepenuhnya presisi dalam menentukan tahapan tidur.
- Kelebihan: Akurat membedakan antara terjaga dan tertidur.
- Kelemahan: Cenderung melebihkan durasi tidur nyenyak karena algoritma kesulitan mendeteksi fase tidur ringan atau saat pengguna terbangun tanpa banyak bergerak.
Dr. Chen menjelaskan bahwa untuk hasil yang benar-benar akurat, seseorang perlu menjalani uji tidur medis (polysomnography) di laboratorium tidur.
Tes tersebut menggunakan sensor elektroda untuk merekam aktivitas otak dan gelombang otot, sesuatu yang belum dapat ditiru oleh perangkat konsumen seperti smartwatch.
Dapat disimpulkan bahwa fitur pelacak tidur pada smartwatch bukanlah alat diagnostik medis.
Data yang dihasilkan sebaiknya digunakan sebagai panduan reflektif, bukan acuan medis absolut. Data ini efektif untuk:
-
Mengenali pola tidur pribadi, seperti jam tidur ideal.
-
Mengetahui pengaruh kafein, suhu ruangan, atau stres terhadap kualitas tidur.
Jika hasil pelacakan menunjukkan pola yang tidak wajar, seperti sering terbangun atau durasi tidur terlalu singkat, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis profesional.
(*Drw)












