Brasil dijadwalkan akan mengadakan pemilihan umum tahun depan, dan isu keamanan menjadi sorotan utama.
Para oposisi menuduh Lula bersikap lunak terhadap kejahatan.
Sebuah survei dari Parana Pesquisas bahkan menyatakan hampir 50 persen warga Brasil merasa keamanan memburuk di bawah pemerintahan Lula.
Beberapa pengamat menilai razia brutal ini adalah “pertunjukan” politik. Seorang pensiunan polisi, Ferraz, memandang penggerebekan itu sebagai bagian dari “perebutan kendali politik” atas kota.
Pengamat kekerasan bersenjata, Cecília Olliveira, melontarkan kritik lebih tajam, menyebut operasi itu adalah langkah pemerintah “mengganti kebijakan dengan tontonan.”
Para pakar keamanan juga skeptis operasi ini akan efektif.
Koordinator Pusat Studi Keamanan Publik dan Kewarganegaraan Rio, Ramos, menyebut tindakan keras itu sebagai “aib internasional”.
“Mereka tahu, dan kami tahu, bahwa [operasi] ini sama sekali tak akan mengubah apa pun,” ujar Ramos.
“Dalam sebulan, Komando Merah akan sama terorganisirnya, atau bahkan mungkin lebih terorganisir, daripada sebelumnya,” tambahnya.
Baca Juga: Menteri Energi AS: Tak Akan Ada Awan Cendawan dari Uji Coba Nuklir Trump
(*Mira)













