Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kehidupan orang dewasa seringkali penuh dengan tuntutan.
Mulai dari tenggat waktu pekerjaan yang mencekik, drama hubungan yang rumit, hingga tagihan yang harus dibayar.
Ada kalanya, dunia terasa begitu berat dan melelahkan hingga kita merasa sendirian.
Namun, di tengah semua kekacauan itu, seringkali ada satu “obat” mujarab yang instan: menekan tombol panggil dan mendengar suara di seberang sana berkata, “Halo, Nak…”
Baca Juga: Rasa Rindu di Setiap Sendok: 5 Masakan Mama yang Cocok untuk Mengobati Homesick
Berbicara dengan mama (atau sosok ibu dalam hidup kita) memiliki kekuatan magis yang sulit dijelaskan. Beban yang tadinya menekan bahu tiba-tiba terasa sedikit terangkat.
Ini bukan sihir, melainkan perpaduan kuat antara psikologi, biologi, dan ikatan emosional yang telah terbangun seumur hidup.
Mengapa hal sederhana seperti ini bisa begitu menenangkan? Berikut adalah empat alasan unik mengapa berbicara dengan mama membuat dunia terasa lebih ringan.
1. Suaranya adalah ‘Jangkar’ Rasa Aman
Jauh sebelum kita mengenal stresor dunia modern, suara seorang ibu adalah sinyal utama kita untuk rasa aman.
Sejak dalam kandungan hingga masa kanak-kanak, suaranya terasosiasi dengan kehangatan, makanan, dan perlindungan.
Secara psikologis, suara mama adalah “jangkar” atau safe anchor kita.
Ketika kita dewasa dan merasa terombang-ambing oleh “badai” kehidupan, mendengar suara itu secara instan mengaktifkan respons rasa aman di otak kita.
Kita merasa “pulang” ke tempat di mana kita tahu kita diterima tanpa syarat, tidak peduli seberapa besar kita gagal hari itu.
2. Validasi Emosi Tanpa Menghakimi
Saat kita menceritakan masalah kepada orang lain, respons pertama mereka mungkin adalah memberi solusi atau nasihat.
“Seharusnya kamu begini…” atau “Kenapa kamu tidak begitu?” Namun, seringkali kita tidak butuh solusi, kita hanya butuh didengar.
Seorang mama seringkali menawarkan sesuatu yang lebih berharga: validasi emosi.
Dia adalah orang yang akan berkata, “Pasti kamu capek sekali ya,” atau “Wajar kamu marah.”
















