Sebagai bagian dari pembelajaran, Suharyanto menyoroti berbagai pengalaman penanganan bencana besar di Indonesia.
Beberapa contoh yang diangkat adalah Tsunami Aceh 2004, erupsi Gunung Semeru 2021, banjir lahar Gunung Marapi 2024, dan erupsi Gunung Lewotobi 2025.
Ia menegaskan bahwa mitigasi struktural dan nonstruktural, serta penataan ruang berbasis risiko bencana, menjadi langkah penting agar kejadian serupa tidak menimbulkan korban besar di masa depan.
Melalui kesempatan ini, Kepala BNPB mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat budaya sadar bencana sebagai bagian dari ketahanan nasional.
“Ketangguhan dalam menghadapi bencana bukan hanya tentang kesiapan teknis, tetapi juga tentang mental, solidaritas, dan kepemimpinan yang kokoh di setiap lapisan masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga: Kepala BNPB Pimpin Rakor di Aceh, Komitmen Perkuat Mitigasi Tsunami dan Banjir
(*Red)
















