Kenapa Semakin Dewasa Kita Semakin Malu Menangis? Ini 4 Jawabannya

"Merasa berat tapi enggan menangis? Anda tidak sendiri. Pahami 4 alasan psikologis dan sosial mengapa orang dewasa semakin malu dan sulit menangis."
Merasa berat tapi enggan menangis? Anda tidak sendiri. Pahami 4 alasan psikologis dan sosial mengapa orang dewasa semakin malu dan sulit menangis. (Dok. Ist)

Banyak dari kita berperan sebagai “penopang” bagi orang lain sebagai orang tua bagi anak-anak kita, sebagai anak bagi orang tua kita yang menua, atau sebagai pemimpin bagi tim kita di kantor.

Ketika orang lain bergantung pada kita untuk menjadi “batu karang” yang kokoh, menangis terasa seperti sebuah kemewahan yang egois.

Kita merasa tidak punya hak untuk hancur. Ada ketakutan bahwa jika kita menangis dan runtuh, kita akan mengecewakan atau menakuti orang-orang yang bergantung pada kita.

Jadi, kita menelannya, demi menjaga stabilitas orang lain.

3. Takut akan Kerentanan (Vulnerability)

Menangis adalah bentuk kerentanan paling mentah.

Saat menangis, kita melepaskan topeng “semua baik-baik saja” dan menunjukkan luka kita. Bagi banyak orang dewasa, menjadi rentan adalah hal yang menakutkan.

Kita takut jika kita membiarkan diri kita merasakan kesedihan itu sepenuhnya, kita tidak akan bisa berhenti.

Kita takut tenggelam dalam emosi itu.

Selain itu, ada ketakutan bahwa kerentanan kita akan dieksploitasi, dihakimi, atau digunakan orang lain untuk melawan kita.

Jauh lebih aman untuk membangun tembok dan berpura-pura semuanya terkendali.

4. Kebiasaan Menekan Emosi (Emotional Suppression)

Setelah bertahun-tahun menekan tangis karena alasan 1, 2, dan 3, itu menjadi sebuah kebiasaan bahkan respons otomatis.

Kita menjadi sangat ahli dalam mengalihkan, menganalisis, atau merasionalisasi rasa sakit kita alih-alih merasakannya.

Saat menghadapi masalah berat, otak kita langsung beralih ke mode “solusi” atau “bertahan hidup”, bukan mode “merasa”.

Akibatnya, kita menjadi “mati rasa”.

Kita ingin menangis untuk melepaskan beban, tetapi air mata itu tidak bisa keluar.

Ini bukan lagi soal malu, tapi kita sudah lupa caranya melepaskan emosi secara sehat.

Baca Juga: Lagu ’33X’ Perunggu Adalah Pelukan untuk Kamu yang Merasa Tertinggal

(*Mira)