Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Saat masih anak-anak, menangis adalah respons paling alami terhadap rasa sakit, frustrasi, atau kesedihan.
Tidak ada filter, tidak ada rasa malu.
Namun, seiring bertambahnya usia, “saluran air mata” itu seakan tersumbat oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Semakin kita dewasa, semakin berat beban yang kita pikul.
Baca Juga: Sering Merasa Sensitif atau Cengeng di Sore Hari? Ini 5 Penyebab Umumnya
Entah itu tekanan karier, masalah finansial, konflik keluarga, atau rasa duka.
Anehnya, meski beban semakin berat, kita justru semakin enggan dan malu untuk menangis.
Kita menahan napas, mengatupkan rahang, dan berkata pada diri sendiri, “Jangan sekarang,” atau “Aku harus kuat.”
Mengapa ini terjadi? Mengapa respons manusiawi yang paling mendasar ini menjadi sesuatu yang tabu saat kita dewasa?
Ternyata, alasannya jauh lebih dalam dari sekadar “Jaga image“. Ini adalah campuran kompleks dari tekanan sosial, psikologi, dan tanggung jawab.
Berikut adalah 4 alasan mengapa semakin dewasa, kita semakin enggan menangis.
1. Konstruksi Sosial: “Menangis Itu Lemah”
Alasan paling klasik dan paling kuat adalah stigma sosial.
Sejak kecil, kita secara tidak sadar diprogram dengan serangkaian aturan tak tertulis tentang kedewasaan.
“Orang dewasa harus tegar,” “Kamu harus bisa mengendalikan emosi,” dan yang paling umum, “Laki-laki tidak boleh menangis.”
Stigma ini membuat menangis dianggap sebagai tanda kegagalan.
Itu dilihat sebagai tanda kelemahan, ketidakmampuan mengendalikan diri, atau ketidakstabilan emosional.
Kita malu jika terlihat “cengeng” di depan rekan kerja, pasangan, atau bahkan teman, karena takut kehilangan respek dan otoritas.
2. Beban Tanggung Jawab Sebagai “Sang Penopang”
Kedewasaan seringkali identik dengan tanggung jawab.
















