Oleh karena itu, dr. Santi menyarankan agar para penderita asam lambung tidak memaksakan diri dengan pola ekstrem.
“Pilih jam puasa yang tidak terlalu panjang misalnya puasa hanya 12 atau 14 jam saja,” ujarnya.
Waktu puasa yang lebih singkat memberi kesempatan tubuh beradaptasi tanpa mengganggu sistem pencernaan.
3. Perhatikan Pola dan Jenis Makanan
Kesalahan sering terjadi saat menjalani IF. Kesalahan itu adalah makan berlebihan saat jendela makan dibuka. Hal ini justru membuat lambung bekerja terlalu keras dan memperburuk kondisi lambung.
“Hindari makan kekenyangan saat buka puasa dan saat jendela makan,” kata dr. Santi.
Selain porsi, jenis makanan juga krusial. Penderita GERD harus lebih selektif terhadap makanan dan minuman. Ia mengingatkan untuk: “Hindari makanan (asam, pedas, berminyak) dan minuman (asam, soda, kopi, cokelat) yang berpotensi memicu GERD.” Memperhatikan jenis asupan adalah kunci agar Intermittent Fasting Aman untuk Asam Lambung.
Baca Juga: Rekomendasi Makanan Tinggi Serat untuk Diet, Bantu Turunkan Berat Badan Ideal
4. Dukung dengan Gaya Hidup Sehat
Menjalani intermittent fasting harus dibarengi dengan gaya hidup yang mendukung kesehatan lambung secara keseluruhan.
Menurut dr. Santi, penting untuk: “Barengi dengan gaya hidup yang lain seperti cukup tidur, mengelola stres, rutin olahraga.”
Terakhir, penderita asam lambung harus mendengarkan tubuhnya sendiri. Bila ada tanda-tanda ketidaknyamanan, seperti nyeri ulu hati atau mual, sebaiknya hentikan sementara pola IF dan lakukan evaluasi.
“Perhatikan sinyal tubuh dalam memberi respons IF… Jika ada keluhan, diskusikan dengan tenaga kesehatan,” tutupnya.
Kunci keberhasilan bagi penderita GERD bukan pada ketatnya puasa, melainkan bagaimana tubuh bisa tetap nyaman dan sehat selama proses adaptasi.
(*Drw)
















