Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Sebuah studi terbaru dari British Standards Institution (BSI) mengungkap tantangan serius yang dihadapi oleh kelompok usia muda, Gen Z, di pasar tenaga kerja. Kelompok ini, yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, tengah berada di ambang ‘kiamat kerja’ imbas ledakan Adopsi Teknologi AI di berbagai perusahaan.
Laporan BSI memaparkan bahwa pimpinan perusahaan kini memprioritaskan otomatisasi melalui AI untuk mengisi kebutuhan. Pilihan ini dipilih daripada melatih anggota staf junior.
Opsi AI ini juga dipilih karena memungkinkan perusahaan mengurangi jumlah karyawan secara signifikan.
Otomatisasi Mengancam Posisi Entry-Level
Survei BSI melibatkan lebih dari 850 pemimpin bisnis di tujuh negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, dan China. Hasil survei menunjukkan angka yang mengkhawatirkan:
- Pengurangan Karyawan: Empat dari 10 bos perusahaan (sekitar 41 persen) mengatakan bahwa AI memungkinkan mereka untuk mengurangi jumlah karyawan.
- Prioritas AI: Hampir sepertiga (31 persen) responden mengatakan organisasi mereka mempertimbangkan solusi AI sebelum mempertimbangkan untuk mempekerjakan seseorang.
- Tugas Pemula: Seperempat pemimpin perusahaan yakin semua atau sebagian besar tugas yang dilakukan oleh rekan kerja tingkat pemula dapat dilakukan oleh AI.
Lebih lanjut, dua per lima (39 persen) pemimpin perusahaan mengatakan posisi entry-level telah dikurangi atau dihapus.











