Ini juga terkait dengan kimia otak.
Ketidakseimbangan neurotransmitter (pembawa pesan kimia di otak) seperti serotonin atau norepinefrin, yang bertugas mengatur suasana hati dan respons stres, dapat memainkan peran penting dalam memicu respons panik.
3. Riwayat Trauma atau Pengalaman Negatif
Otak kita dirancang untuk melindungi kita dari bahaya.
Jika Anda pernah mengalami kejadian yang sangat menakutkan atau traumatis di masa lalu, otak Anda mungkin “belajar” bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya.
Akibatnya, sistem “lawan atau lari” (fight or flight) Anda bisa menjadi terlalu aktif.
Pemicu yang tampaknya tidak berbahaya di masa kini (seperti berada di tempat ramai atau ruang sempit) dapat secara tidak sadar mengingatkan otak Anda pada trauma masa lalu, sehingga memicu respons panik penuh meskipun tidak ada ancaman nyata.
4. Siklus “Takut akan Rasa Takut” (Sensitivitas Kecemasan)
Ini adalah salah satu alasan paling umum mengapa serangan panik terus berlanjut dan berkembang menjadi gangguan panik.
Seringkali, serangan panik pertama terjadi secara acak (mungkin dipicu oleh stres atau kafein).
Namun, pengalaman itu begitu menakutkan sehingga Anda mulai mengembangkan ketakutan intens akan mengalami serangan panik lagi.
Ketakutan ini membuat Anda menjadi sangat waspada terhadap sensasi tubuh normal.
Misalnya, jantung Anda berdebar sedikit lebih cepat setelah naik tangga.
Bagi orang lain, ini normal.
Tapi bagi Anda, sensasi itu ditafsirkan sebagai “Tanda-tanda serangan panik akan datang!”
Pikiran ini sendiri memicu kecemasan, yang membuat jantung semakin berdebar, dan akhirnya benar-benar memicu siklus panik yang Anda takuti.
(*Mira)
















