Lebih dari sekadar gerakan, tarian ini merepresentasikan simbol persatuan dan gotong royong antar etnis Tionghoa, Melayu, dan Dayak dalam tradisi “balalek” (bekerja bersama di ladang).
Kepala Disdikbud Sanggau, Alipius, menjelaskan bahwa lomba tari ini merupakan bagian penting dari program pengembangan minat dan bakat siswa di bidang seni, sekaligus implementasi program kokurikuler.
“Tahun ini, kami menyelenggarakan lomba tari multi etnis untuk siswa SD sebagai wadah ekspresi hasil belajar dan kreativitas mereka. Ini juga merupakan bentuk pelaksanaan program kokurikuler yang menekankan pengembangan potensi siswa di luar akademik,” ujar Alipius.
Menurutnya, kompetisi semacam ini sangat krusial untuk membangun rasa percaya diri anak sejak usia dini, melatih mereka bekerja sama, dan berani berekspresi.
“Kami ingin mereka berani tampil, mengekspresikan ide, menjalin komunikasi, dan bekerja sama dengan teman. Kegiatan seni seperti ini juga menjadi alternatif agar anak-anak tidak hanya terpaku pada gawai,” tambahnya.
Alipius menambahkan, para pemenang dari Lomba Tari Kreasi Multi Etnis Sanggau ini berpeluang untuk mewakili Kabupaten Sanggau di ajang serupa tingkat provinsi.
Baca Juga: Dorong Kreativitas Pelajar, Pemkot Pontianak Gelar Program Seniman Masuk Sekolah
Namun, ia juga menyiratkan adanya tantangan ke depan terkait keterbatasan anggaran.
“Beberapa kegiatan, termasuk lomba olahraga O2SN, tidak dapat dilaksanakan karena pemangkasan anggaran. Kami akan fokus memanfaatkan kegiatan yang ada untuk tetap menumbuhkan kreativitas siswa,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, Disdikbud Sanggau berharap dapat terus mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kaya akan kreativitas dan memiliki kepekaan sosial budaya yang tinggi.
(Ariya)











