Senada dengan itu, Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Riandy Prawita, menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 bukanlah sekadar mimpi.
Ia menyebutnya sebagai hasil yang harus diperjuangkan oleh generasi saat ini.
“Indonesia 2045 ini sebetulnya bukan sekedar angan-angan, namun merupakan satu hasil yang akan dipetik nanti dari kerja keras generasi saat ini. Sebagai kaum intelektual, kita pun juga harus bersama-sama melangkah maju mewujudkan Indonesia berkemajuan,” ucap Riandy.
Ketua Umum PP Nasyiatul ‘Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari, menawarkan empat langkah strategis yang ia sebut “4P” bagi generasi muda. Keempat pilar tersebut adalah:
- Perkuat keimanan dan pendalaman agama.
- Perkuat ideologi Kemuhammadiyahan.
- Pupuk empati, kreativitas, dan inovasi.
- Perluas wawasan dan nalar kritis.
“Ketika kita memiliki keilmuan tanpa agama, maka kita akan pincang. Sebaliknya, ketika agama kita kuat tapi wawasan kita sempit, maka kita akan seperti orang buta,” tegas Ariati, menekankan pentingnya keseimbangan spiritual dan intelektual.
Mewakili Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ode Rizki Prabtama menyampaikan pesan bahwa IMM harus menjadi gerakan yang dinamis dan relevan dengan isu-isu kontemporer, berlandaskan pada trilogi gerakan: Keislaman, Keilmuan, dan Kemanusiaan.
“IMM didorong untuk keluar dari zona nyaman organisasi yang stagnan menuju gerakan yang dinamis dan kontekstual terhadap isu-isu zaman. Tentu, ini bukanlah sekedar slogan namun merupakan gerakan ideologis dan praksis,” ucapnya.
Secara keseluruhan, diskusi ini mempertegas komitmen dan peran pemuda Muhammadiyah untuk menjadi agen perubahan yang berilmu, berakhlak, dan inovatif dalam membangun Indonesia yang berkemajuan.
Baca Juga: Enam Pelajar Muhammadiyah Sambas Ikuti PDPM ke-3 di Pontianak, Siap Jadi Da’i Muda Intelek
(*Red)
















