Keluarga korban yang belum menerima kepastian terus menanti hasil proses identifikasi ini dengan sabar.
Evaluasi Tingkat Menteri dan Pernyataan Tegas Menko PMK
Besarnya dampak dari tragedi Musala Al Khoziny membuat insiden ini menjadi pembahasan utama dalam rapat tingkat menteri yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, pada Jumat (10/10).
Dalam rapat tersebut, Pratikno menyebut peristiwa yang merenggut 61 nyawa ini sebagai bencana dengan korban jiwa terbanyak sepanjang tahun 2025, yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan yang tidak memenuhi standar.
“Ambruknya bangunan ponpes Al Khoziny di Sidoarjo menjadi bencana non-alam, kegagalan teknologi dengan korban meninggal dunia terbanyak sepanjang tahun 2025. Ini mesti kita jadikan atensi dan antisipasi, agar tidak terjadi di kemudian hari,” ujar Pratikno.
Ia juga mengapresiasi respons cepat dari seluruh lembaga yang terlibat, termasuk BNPB dan Basarnas, setelah meninjau langsung lokasi kejadian pada Kamis (2/10) lalu.
Pratikno berharap semua pihak dapat bersinergi untuk melakukan sinkronisasi dan koordinasi demi mencegah insiden serupa terulang.
Baca Juga: Pakar ITS Sebut Konstruksi Ponpes Al Khoziny Gagal Total: Kolom Utama Melengkung, Tak Sesuai Standar
Sinergi Lintas Lembaga di Balik Penanganan Bencana
Penanganan tragedi Musala Al Khoziny menunjukkan kompleksitas dan sinergi dari berbagai kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah.
Masing-masing pihak memegang peran krusial sesuai kewenangannya:
- BNPB: Bertindak sebagai koordinator utama penanganan darurat, mulai dari instruksi operasional, pendanaan, hingga manajemen logistik dan relawan.
- Basarnas: Memimpin operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di lapangan dengan dukungan penuh dari TNI dan Polri.
- Kementerian PUPR: Melakukan audit teknis untuk menganalisis penyebab keruntuhan struktur dan memberikan rekomendasi keselamatan bangunan.
- Polri: Mengamankan lokasi, melakukan penyelidikan hukum untuk mencari unsur kelalaian, dan melalui tim DVI, melakukan identifikasi korban.
- Kemensos & Kemenkes: Memberikan layanan dukungan psikososial bagi keluarga, menyalurkan santunan duka, serta memastikan penanganan medis dan jenazah sesuai standar.
- Kemenag: Melakukan evaluasi terhadap sarana prasarana pesantren dan menyiapkan pemulihan kegiatan belajar mengajar para santri.
- Pemprov Jatim & Pemkab Sidoarjo: Mengerahkan perangkat daerah seperti BPBD dan dinas terkait untuk memastikan kebutuhan dasar korban dan keluarga terpenuhi di tingkat lokal.
Kerja sama solid dari seluruh elemen ini menjadi kunci dalam memastikan penanganan bencana berjalan secara komprehensif, mulai dari fase darurat, investigasi, hingga langkah pemulihan jangka panjang.
Baca Juga: Tragedi Musala Ponpes Al Khoziny: Korban Jiwa Bertambah Jadi 14 Orang, 49 Santri Masih Dicari
(*Red)
















